Selasa, 25 September 2012

MGMP BAHASA INGGRIS


Contoh-contoh PTK Bahasa Inggris
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris
Wilayah Bina 06 Kabupaten Lebak


1. Lia Nurlianingsih, S.Pd. (SMP Negeri 2 Malingping)

Peningkatan Penguasaan Vocabulary pada Pembelajaran Writing Text Recount Melalui Mind Mapping pada Siswa Kelas VIII A Semester I
Tahun Pelajaran 2012/2013 di SMP Negeri 2 Malingping


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bahasa Inggris merupakan satu – satunya bahasa yang paling banyak digunakan di dunia ini. Posisi bahasa Inggris di dunia saat ini sama dengan posisi bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan tentu memiliki bahasa daerah sendiri – sendiri, dapat berkomunikasi secara baik menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Begitu juga dengan bahasa Inggris. Bangsa – bangsa di seluruh dunia yang memiliki bahasa ibu masing – masing, saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris.
Dari sini dapat kita sadari betapa penting peranan bahasa Inggris dalam pergaulan internasional. Jika suatu bangsa tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris, sudah bisa dipastikan bahwa ia akan terkucilkan dari pergaulan bangsa – bangsa di seluruh dunia. Belum lagi kalau kita bicara mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini, barat, sebagai bangsa pengguna asli bahasa Inggris, masih menjadi pemimpin dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, jika kita ingin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kita harus menguasai bahasa Inggris dulu untuk mewujudkannya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan di universitas – universitas luar negeri tersimpan dalam bahasa tulis yang harus kita baca. Agar yang kita baca itu berhasil guna, kita harus benar – benar memahami isi dari bacaan itu. Oleh karena itu, dalam Kompetensi Dasar (KD) pada lampiran Standar Isi bahasa Inggris kelas VIII (BSNP, 2006), disebutkan bahwa idealnya siswa kelas VIII mampu: “Merespon makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar dalam teks berbentuk recount dan narrative”
Selanjutnya dalam Lampiran Standar Isi Bahasa Inggris (BSNP, 2006) ditulis bahwa pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Untuk memahami kalimat – kalimat dalam bahasa Inggris, diperlukan perbendaharaan kosakata bahasa Inggris yang cukup. Bahkan, penguasaan kosakata dalam bahasa Inggris itu jauh lebih penting daripada penguasaan tata bahasanya. Dellar dan Hocking (dalam Thornbury, 2002:13) mengatakan: “Jika anda mempelajari tata bahasa sepanjang waktu, Bahasa Inggris anda tidak akan begitu mengalami peningkatan. Bahasa Inggris anda akan meningkat jika anda mempelajari lebih banyak kosakata dan ekspresi – ekspresi. Dalam berbicara, anda hanya akan membutuhkan sedikit tata bahasa. Tapi anda bisa mengatakan apapun dengan kosakata.”
Seseorang dikatakan berhasil dalam mempelajari sebuah bahasa asing, jika ia memiliki perbendaharaan kata yang cukup. Maka, mempelajari kosakata saja tanpa mampu mengingatnya untuk dimanfaatkan di masa mendatang tentu sia – sia saja. Karena itulah Thornbury (2002:23) menambahkan: “Siswa tidak hanya perlu mempelajari banyak kosakata tetapi juga harus mempelajari bagaimana untuk mengingatnya.” Namun untuk mengingat kosakata yang telah dipelajari untuk dipergunakan lagi di masa mendatang tidak selalu mudah dilakukan. Guru selalu mengenalkan kosakata – kosakata baru dalam pembelajaran. Namun, ketika guru membuat soal yang berkenaan dengan kosakata – kosakata baru itu, siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Malingping kesulitan dalam menyelesaikannya. Siswa dengan sangat cepat melupakan kosakata – kosakata baru yang telah mereka pelajari sebelumnya sehingga mereka tidak bisa menyelesaikan soal. Terlebih lagi jika soal – soal itu mengandung kata kerja bentuk ke dua, jenis kata kerja dalam bahasa Inggris yang banyak dipakai dalam teks recount. Perubahan kata kerja yang membutuhkan kekuatan ingatan begitu mudah hilang dari memori siswa.
Perubahan kata kerja untuk menunjukkan waktu terjadinya peristiwa memang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang hanya menggunakan kata kemarin, saat ini, besok, lusa atau tahun depan untuk menujukkan waktu terjadinya peristiwa, bahasa Inggris juga memerlukan berubahnya kata kerja. Inilah yang membuat siswa kesulitan. Biasanya, kosakata – kosakata baru dipelajari dengan membuka kamus kemudian menuliskan arti dari kata – kata itu di buku catatan. Dalam jangka waktu yang pendek, siswa masih bisa mengingat arti sebuah kata atau membuka catatan untuk menemukan arti dari sebuah kata jika kata itu muncul kembali dalam sebuah bacaan. Namun dalam jangka waktu yang panjang siswa tidak lagi ingat arti dari kata itu atau dimana arti kata itu ditulis dalam buku mereka.
Dapat dipastikan bahwa metode menuliskan arti dari sebuah kosakata baru di buku catatan bukan cara yang tepat untuk menambah perbendaharaan kata. Diperlukan metode yang baru agar siswa memiliki hafalan yang kuat sehingga kosakata yang telah dipelajari akan terus diingat. DePotter dan Hernacki (1999:152) mengatakan bahwa otak manusia mengingat informasi dalam bentuk gambar, symbol, suara, bentuk – bentuk dan perasaan. Metode pencatatan konvensional yang linier tidak sesuai dengan kinerja otak dalam mengingat informasi.
Mind Map (Peta Pikiran) adalah sebuah teknik pencatatan yang dikembangkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an. Mind Map menggunakan tulisan dan gambar yang berwarna untuk merangsang ingatan. Mengenai kekuatan otak dalam mengingat informasi dalam bentuk gambar, terdapat sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Ralph Haber (dalam Buzan, 1993:71) yang membuat ia mengatakan bahwa otak mengenal gambar dengan sangat sempurna. Karena itulah penulis menggunakan Mind Map yang dikembangkan oleh Tony Buzan ini sebagai sarana untuk memperkuat ingatan akan kosakata bahasa Inggris yang telah dipelajari.
Penelitian dengan menggunakan Mind Map ini dikatakan berhasil jika siswa mampu mengingat arti kosakata yang telah mereka pelajari dalam jangka waktu tertentu. Dan jika kosakata – kosakata itu dipergunakan dalam kalimat yang berbeda, mereka bisa memahami makna dari kalimat itu.
B.       Rumusan Masalah
Penguasaan kosakata yang cukup merupakan syarat dalam memahami kalimat – kalimat dalam bahasa Inggris. Kenyataannya siswa seringkali lupa dengan kosakata yang telah mereka pelajari, sehingga mereka tidak mampu memahami kalimat–kalimat yang mengandung kosakata–kosakata itu. Berdasarkan deskripsi masalah di atas, maka dirumuskan masalahnya sebagai berikut: “Bagaimana mind mapping dapat meningkatkan penguasaan vocabulary pada pembelajaran writing text recount siswa kelas VIII A semester I SMP Negeri 2 Malingping Tahun Pelajaran 2012/2013”
C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah pada di atas, tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan penguasaan vocabulary pada pembelajaran writing text recount siswa kelas VIII A semester I SMP Negeri 2 Malingping Tahun Pelajaran 2012/2013 melalui media mind mapping.
D.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat hasil penelitian ini:
1.      Bagi Siswa: meningkatkan kemampuan mereka dalam mengingat makna kosakata bahasa Inggris .
2.      Bagi Guru: merupakan media untuk mengajarkan kosakata menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
3.      Bagi Sekolah: memotivasi guru lain untuk mencoba menggunakan Mind Map sebagai sarana untuk menguatkan ingatan siswa akan arti dari kosakata bahasa Inggris.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.      Pengertian Vocabulary
Mempelajari suatu bahasa tidak akan lepas dari mempelajari kosakata (vocabulary) yang membentuk bahasa itu sendiri. Berikut ini pengertian vocabulary: Hornby (2000:1331) mengatakan bahwa vocabulary adalah sebuah daftar dari kata – kata dalam sebuah bahasa dengan maknanya sekaligus. Dari definisi yang disampaikan oleh Hornby di atas dapat disimpulkan bahwa vocabulary merupakan elemen dasar dan terpenting dari sebuah bahasa. Awalnya permbelajaran bahasa Inggris di Indonesia didonimasi oleh pembelajaran tata bahasa. Kosakata hanya digunakan sebagai pelengkap. Hal ini bisa dilihat dari buku – buku ajar yang digunakan di tingkat SMP dan SMA pada saat itu.
Pada tahun 1984, Swan dan Walter, dalam pembukaan buku Cambridge English Course menulis bahwa penguasaan vocabulary merupakan hal terpenting bagi orang yang mempelajari bahasa Inggris (Thornbury, 2002:14). Pembelajaran yang banyak mengajarkan tata bahasa dianggap akan lebih efektif karena tata bahasa membentuk kalimat–kalimat. Namun, setelah anggapan ini terbukti keliru, pembelajaran bahasa Inggris tidak lagi menempatkan vocabulary hanya sebagai tambahan semata. Siswa harus menguasai sebanyak mungkin kosakata yang diperlukan. Seseorang yang akan bepergian ke luar negeri harus menguasai kosakata–kosakata yang dapat membantu ia dalam aktivitasnya di luar negeri itu. Begitu juga dengan seseorang yang akan melanjutkan studinya di luar negeri. Namun, jumlah kosakata yang harus dikuasai oleh kedua orang itu tentu berbeda. Orang yang akan melanjutkan studi ke luar negeri dituntut untuk memiliki kosakata yang jauh lebih banyak daripada orang yang hanya akan bepergian ke luar negeri.
Berapa kosakata yang perlu dikuasai agar dapat dipakai dalam berbagai situasi? Untuk memenuhi hal ini, seseorang setidaknya harus menguasai 2.000 kosakata (Schonell, Meddleton, Shaw, Routh, Popham, Gill, Mackrell, and Stephens, 1956). 2.000 kata ini merupakan 87% kata yang dipakai dalam teks tertulis dan 80% kata yang dipakai dalam teks akademis (Nation, 1990). 2.000 kosakata merupakan kosakata yang secara umum dikuasai oleh penutur asli. Angka itu juga merupakan jumlah kata yang terdapat dalam rata – rata kamus. Karena siswa kelas VIII SMP ditargetkan mampu menguasai bahasa Inggris secara functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk, akan lebih baik bagi mereka jika menguasai kosakata yang mendekati angka itu.
Menguasai vocabulary bukanlah suatu hal yang mudah. Berapapun yang kita pelajari akan mudah kita lupakan dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi jika kita tidak mempraktekkan apa yang telah kita pelajari itu. Beberapa penelitian mengungkapkan apa – apa saja yang perlu dilakukan agar kosakata yang telah dipelajari dapat terus diingat (Thornbury, 2002:24). Berikut diantaranya: (1). Pengulangan: Jika sebuah kata diulang beberapa kali dalam satu bacaan, bisa dipastikan bahwa kata itu akan lebih diingat daripada kata yang lain. (2). Gunakan: Selalu gunakan kosakata yang telah dipelajari. Penggunaan kata itu bisa dalam bentuk penulisan kalimat atau menggunakannya dalam berbicara. (3). Menggambarkan: Cara terbaik untuk mengingat sebuah kata adalah dengan menggambarkannya dalam pikiran. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kata yang mudah untuk digambarkan secara mental, lebih mudah diingat daripada kata yang sulit untuk digambarkan. (4). Motivasi: Hanya dengan memiliki keinginan untuk mempelajari kosakata tidak berarti kosakata itu kemudian mudah untuk diingat. Motivasi memungkinkan seorang pembelajar untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk mengulang dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari. (5). Perhatian: Kata yang lebih memicu respon emosional akan lebih mudah diingat daripada kata yang tidak memicu respon emosional.
B.       Mind Mapping
Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
C.      Cara Membuat Mind Mapping
Waruwu, dalam presentasinya memaparkan langkah – langkah dalam membuat mind mapping. Berikut cara – cara membuat mind mapping:
1.      Mulailah dari tengah kertas kosong.
2.      Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3.      Gunakan berbagai warna.
4.      Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting- ranting yang berhubungan ke cabang dan seterusnya.
5.      Buatlah garis hubung yang melengkung.
6.      Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis
7.       Gunakan gambar.
Sedangkan secara teknis, Buzan dalam bukunya, The Mind Map Book, memaparkan tiga hal untuk menulis mind mapping:
1. Gunakan Penekanan
a.       Selalu gunakan gambar di tengah – tengah kertas
b.      Gunakan gambar di seluruh mind mapping
c.       Gunakan tiga atau lebih warna untuk gambar utama
2. Gunakan Asosiasi
a.       Gunakan panah ketika akan membuat koneksi antar cabang
b.      Gunakan warna dan kode
3. Jelas
a.       Gunakan hanya satu kata kunci per garis
b.      Buatlah garis sejajar dengan panjang kata
c.       Hubungkan satu garis dengan garis lainnya
d.      Tebalkan garis utama
e.       Gambarlah sejelas mungkin
f.       Letakkan kertas secara horizontal


BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang mengacu pada model Kemmis dan M.C Taggart (1988) yang terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. PTK direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus.
B.       Kehadiran Peneliti di Lapangan
Peneliti sebagai perencana, pengajar, pengamat, pelaksana pengumpulan data, penganalisa data, dan pelapor hasil penelitian.
C.      Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Malingping, Jalan Raya Saketi KM. 10 Malingping, pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Subjek penelitian sebanyak 35 siswa.
D.      Data dan Sumber Data
1.      Data
a.       Lembar penilaian kognitif yang diperoleh dari nilai peserta didik dalam menyelesaikan soal kuis, soal ulangan harian yang diberikan setiap siklus dan lembar penilaian psikomotor yang diperoleh dari peniliaian selama proses pembelajaran
b.      Lembar penilaian afektif
c.        Hasil respon peserta didik berdasarkan angket
d.      Dokumentasi
e.       Catatan Lapangan
2.      Sumber Data
a.         Peserta didik, pengamat, dan peneliti

E.       Instrumen Penelitian
a.    Alat Pengumpulan Data
1.    Tes yaitu kuis dan ulangan harian (ranah kognitif).
2.    Format penilaian proses belajar (ranah psikomotor)
3.     Format peniliaian afektif
4.    Angket respons peserta didik
b.      Metode Pengumpulan Data
1.    Observasi
2.    Catatan Lapangan
F.       Analisis Data
Teknik yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Tahap – tahap kegiatan analisis data (Miles dan Huberman, 1992) adalah: mereduksi data, menyajikan data, menarik kesimpulan, dan verifikasi
G.      Pengecekan Keabsahan Penelitian
Teknik pengecekan yang digunakan adalah teknik pengecekan teman sejawat (Moleong, 1994)
H.      Tahap – Tahap Penelitian
1.      Tahap Pendahuluan (Pra Tindakan)
a.       Menyusun jadwal penelitian
b.       Menentukan observer dan melaporkan ke kepala sekolah
c.       Menyusun instrumen berupa kuis, ulangan harian, pedoman observasi kinerja ranah psikomotor dan afektif
d.      Angket respon peserta didik
2.      Tahap Tindakan
Siklus I
1.      Rencana Tindakan
a.       Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I
b.      Menempatkan peserta didik sesuai denah yang disusun guru
c.       Menyiapkan soal kuis
d.      Menyiapkan soal ulangan harian
e.       Menyiapkan lembar penilaian proses belajar Menyiapkan lembar penilaian afektif
f.       Menyiapkan format penilaian kompetensi peserta didik
g.       Menyiapkanlembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
h.      Menyiapkan angket
2.      Pelaksanaan Tindakan
Sesuai dengan langkah – langkah pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
3.         Observasi
4.         Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan siklus II dilaksanakan setelah mempelajari hasil refleksi pada siklus I. Tahap – tahap siklus II sama dengan siklus I



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Penelitian
1.      Siklus 1
Siklus pertama ini menitik beratkan pada kegiatan membuat catatan dengan metode mind mapping. Peneliti menjelaskan teknis penulisan mind mapping dan manfaat menulis catatan dengan menggunakan metode ini.
a.    Tahap Perencanaan
Peneliti bersama rekan sejawat menyusun RPP. Selanjutnya, peneliti memilih teks yang akan dicatat dengan mengggunakan metode mind mapping. Peneliti juga menyusun alat penilaian untuk mengetahui sejauh mana mind mapping dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat kosakata yang baru mereka pelajari. Selain itu, peneliti juga menyusun instrumen penelitian berupa lembar observasi.
b.   Tahap Pelaksanaan
Peneliti memulai kegiatan pembelajaran dengan bertanya jawab seputar topik (brainstorming), mereview materi tata bahasa berupa penggunaan kalimat Simple Past Tense dalam teks Recount. Kemudian peneliti menjelaskan teknis penulisan mind mapping dan meminta siswa untuk mencatat ulang teks surat pribadi dari buku BSE Bahasa Inggris kelas VIII karangan Artono Wardiman dan kawan – kawan halaman 122 dalam bentuk mind mapping. Penulisan mind mapping ditekankan pada kata kerja kedua yang digunaan dalam teks recount. Untuk setiap penulisan kata kerja kedua, selalu diikuti dengan penulisan kata kerja pertamanya dan sebuah gambar yang mewakili arti dari kata itu. Dalam proses ini, siswa menggunakan bantuan kamus untuk mencari arti kosakata.
c.     Tahap Pengamatan
Peneliti bersama teman sejawat mengamati masing – masing siswa dengan menggunakan lembar observasi. Hasil pengamatan itu adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Hasil Obervasi Kelas Siklus 1
No
Point yang diamati
Kriteria
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
1
Antusiasme siswa

√ X


2
Interaksi

√ X


3
Gagasan

X

4
Inisiatif


√ X

5
Pemahaman siswa

X


Keterangan: √ (peneliti); X (kolaborator)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa antusiasme siswa dalam pembuatan catatan mind mapping ini baik. Menurut peneliti, antusiasme ini terbangun karena model penulisan mind mapping yang menggunakan gambar dan memicu kreatifitas masing – masing siswa. Interaksi siswa dengan peneliti dan kolaborator juga baik. Jika siswa mengalami kesulitan dalam mendapatkan arti sebuah kata dan perubahannya, mereka akan bertanya kepada teman yang lain atau bertanya kepada peneliti ataupun kolaborator. Untuk gagasan, peneliti merasa bahwa siswa belum sepenuhnya mengeksplorasi. Banyak dari mereka yang membuat gambar yang seragam dengan gambar temannya. Sedangkan untuk inisiatif, peneliti dan kolaborator sepakat bahwa siswa masih kurang. Untuk masalah pemahaman teks recount ataupun penulisan mind mapping siswa sudah cukup baik menurut peneliti namun menurut kolaborator, pemahaman teks recount siswa masih kurang. Hal ini disimpulkan setelah kolaborator melihat banyak siswa yang menuliskan kata – kata lain yang bukan kata kerja kedua. Banyak siswa yang menuliskan kata – kata seperti especially, fever, emergency dan drip.
d.      Tahap Refleksi
Pada akhir siklus diadakan tes dalam bentuk membuat kalimat sederhana tulis dengan mengggunakan kata kerja yang baru saja mereka tulis dengan metode mind mapping.
Tabel 4.2
Hasil Uji Kompetensi Writing Siklus 1
Kriteria
Jumlah Siswa
Prosentase (%)
Sangat baik
10
29%
Baik
7
20%
Cukup
7
20%
Kurang
11
31%
Jumlah
35
100%

Kesimpulan dari hasil di atas adalah sebagai berikut:
1)        Tata Bahasa
Banyak siswa yang sudah mampu menulis kalimat dalam pola past tense. Namun masih banyak juga siswa yang keliru. Kesalahan ini biasanya terdapat pada pilihan kata kerja yang digunakan. Ada siswa yang sudah menuliskan kalimat dengan benar seperti I heard a call. Tapi ada juga yang masih menulis I hear him.
2)        Kosa kata
Masih ada siswa yang menggunakan kosa kata di luar kosa kata yang ditentukan. Pilihan kosa kata ini dikarenakan siswa belum mampu menghafal kosakata yang mereka tulis dalam format mind mapping. Dari temuan ini diketahui bahwa mind mapping dalam siklus pertama ini belum berperan dalam membantu siswa dalam memahami kosakata yang digunakan dalam teks recount. Setelah berdiskusi dengan kolaborator, diketahui bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan mind mapping. Siswa memang sudah membuat mind mapping sesuai dengan petunjuk. Namun, semua siswa masih menggunakan pensil atau ballpoint untuk menuliskan mind mapping.
Belum ada yang menggunakan pensil warna atau spidol warna. Siswa juga kurang berkreasi dengan gambar untuk mewakili arti dari kata yang ditulis. Michael Tipper, seorang praktisi mind mapping menulis bahwa penggunaan warna dalam mind mapping memberikan beberapa manfaat (http://www.michaelonmindmapping.com/blog/mind-maps/7-reasons-to-add-colour-to-your-mind-maps/). Diantaranya:
1.      Membuat informasi lebih melekat pada otak dan lebih mudah untuk “dipanggil ulang”.
2.      Membedakan antar cabang yang berbeda.
3.      Warna digunakan untuk mewakili suatu konsep. Misalnya merah untuk negatif, hijau untuk positif atau kuning untuk ragu – ragu.
4.      Membuat mind mapping lebih menarik
Karena itu pada siklus berikutnya, siswa diminta untuk membuat mind mapping dengan menggunakan pensil warna atau spidol warna. Dan memotivasi siswa untuk membuat lebih banyak warna.
2.       Siklus 2
a.    Tahap Perencanaan
Setelah melakukan refleksi siklus 1 dan menemukan kesalahan dalam pembuatan mind mapping, penulis meminta siswa untuk menyediakan pensil warna atau spidol warna untuk membuat mind mapping.
b.   Tahap Pelaksanaan
Peneliti memulai kegiatan pembelajaran dengan melakukan tanya jawab seputar topik (brainstorming), dan mereview materi tata bahasa simple past tense. Kemudian siswa diminta untuk kembali membuat mind mapping dari teks terdahulu. Namun, kali ini mind mapping ditulis dengan menggunakan pensil warna atau spidol warna.
c.    Tahap Pengamatan
Peneliti bersama teman sejawat mengamati masing – masing siswa dengan menggunakan lembar observasi. Hasil pengamatan itu adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Hasil Obervasi Kelas Siklus 2
No
Point yang diamati
Kriteria
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
1
Antusiasme siswa
√ X



2
Interaksi

√ X


3
Gagasan
X


4
Inisiatif

√ X


5
Pemahan siswa

√ X



Keterangan: (peneliti); X (kolaborator)
Dari tabel di atas diketahui bahwa siswa sangat antusias dalam pembelajaran. Antusiasme ini muncul karena siswa sudah menggunakan pensil atau spidol warna yang membuat mind mapping yang dihasilkan lebih menarik. Gambar – gambar yang dihasilkan juga lebih baik dan menarik. Siswa sudah sangat berani bereksplorasi dengan kreatifitas mereka. Pemahaman siswa juga jauh lebih baik dari sebelumnya. Siswa sudah mulai bisa membedakan antara kata kerja pertama dengan kata kerja kedua.
d.   Tahap Refleksi
Sama halnya dengan siklus pertama, pada tahap akhir siklus 2 diadakan tes dalam bentuk membuat kalimat sederhana tulis dengan mengggunakan kata kerja yang baru saja mereka tulis dengan metode mind mapping..
Tabel 4.4
Hasil Uji Kompetensi Writing Siklus 2
Kriteria
Jumlah Siswa
Prosentase
Sangat baik
15
43%
Baik
13
37%
Cukup
7
20%
Kurang
-
0%
Jumlah
35
100%

Kesimpulan dari hasil di atas adalah sebagai berikut:
1)      Tata Bahasa
Banyak siswa yang sudah mampu menulis kalimat dalam pola past tense. Kesalahan yang paling besar menurut peneliti adalah kesalahan dalam penulisan kata kerja bentuk kedua. Namun, sudah tidak ada siswa yang menuliskan kata kerja bentuk pertama pada kalimat.
2)      Kosa kata
Kosakata yang muncul dalam kalimat merupakan kosakata yang mereka tulis berdasarkan teks recount dari buku BSE Bahasa Inggris oleh Artono Wardiman.
Sebagai perbandingan, berikut disajikan tabel hasil uji kompetensi siklus 1 dan siklus 2:

Tabel 4.5
Perbandingan Hasil Tes Siklus 1 dan 2
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 1
Siklus 2
Sangat baik
10
15
29%
43%
Baik
7
13
20%
27%
Cukup
7
7
20%
20%
Kurang
11
-
31%
0%
Jumlah
35
35
100%
100%

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai dengan kriteria sangat baik mengalami peningkatan 5 siswa atau 14%. Kriteria baik juga mengalami peningkatan sejumlah 6 siswa atau 16%, sementara kriteria cukup ada 7 siswa atau hanya 20%. Pada siklus ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai kriteria kurang. Dari analisa tes siklus ini, peneliti menyimpulkan bahwa mind mapping dapat membantu siswa dalam memahami kosakata teks recount.
B.       Pembahasan
Mind mapping terbukti membantu siswa dalam memahami dan menghafal serta mengingat kembali kosakata bahasa inggris yang berkaitan dengan teks recount.  Mind mapping yang ditulis dengan gambar dan alat tulis warna terbukti mampu menarik minat siswa dalam belajar. Berdasarkan pengamatan, antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sangat baik. Satu hal yang menjadi kesimpulan penulis adalah bahwa sebagus apapun sebuah metode atau alat bantu pembelajaran, siswa perlu beradaptasi dalam menggunakannya. Dalam siklus satu, mind mapping seperti belum membantu siswa secara signifikan. Hal ini bisa jadi dikarenakan siswa belum terbiasa menggunakan mind mapping.
Selain itu, penggunaan mind mapping juga perlu memperhatikan aturan yang telah disarankan. Dalam kasus ini, peneliti tidak memperhatikan absennya alat tulis warna dalam penulisan mind mapping. Penulisan mind mapping dengan menggunakan alat tulis warna terbukti mampu membantu siswa dalam mengingat kosakata yang mereka tulis.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan
Berdasarkan pelaksanaan siklus 1 dan siklus 2 dapat disimpulkan bahwa mind mapping terbukti mampu membantu siswa dalam memahami vocabulary teks recount Hal ini bisa dilihat dari perbandingan tabel tes kedua siklus tersebut pada bab IV. Dari siklus pertama sampai kedua diketahui bahwa kriteria sangat baik mengalami peningkatan 5 siswa atau 14%. Kriteria baik juga mengalami peningkatan sejumlah 6 siswa atau 16%, sementara kriteria cukup ada 7 siswa atau hanya 20%. Pada siklus kedua tidak ada siswa yang memperoleh nilai kriteria kurang. Dari analisa tes siklus ini, peneliti menyimpulkan bahwa mind mapping dapat membantu siswa dalam memahami kosakata teks recount.
Siklus pertama tidak berlaku sesuai dengan yang diharapkan karena mind mapping tidak dibuat sesuai dengan aturan yang ada. Mind mapping seharusnya ditulis dengan menggunaan alat tulis warna atau spidol warna dan gambar – gambar yang memadai. Namun, siswa hanya membuat mind mapping dengan menggunakan pensil atau ballpoint. Mind mapping terbukti mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam proses pembelajaran karena dalam penulisannya kreatifitas siswa sangat diperlukan. Dan lagi, cara pencatatan semacam ini sangat berbeda dan baru bagi siswa sehingga membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
B.       Saran
Mind mapping mampu membuat siswa mengingat kosakata yang mereka pelajari dengan baik. Namun demikian penulis perlu menyarankan agar penggunaan mind mapping pada pembelajaran – pembelajaran lainnya mengikuti kaidah pembuatan mind mapping seperti penggunaan alat tulis warna, dan gambar. Siswa juga perlu dibiasakan mencatat menggunakan mind mapping ini. Sebuah metode terbaik sekalipun memerlukan pembiasaan agar dapat berhasil guna.

DAFTAR PUSTAKA

Buzan, Tony, Buzan, Barry. 1993. The Mind Map Book. United States: Penguin Group.
Dryden, Gordon & Vos Jeannette.1999. Revolusi Cara Belajar: Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun” Bagian I dan II (2nd Ed) Bandung: Kaifa
Hornby, AS. 2000. Oxford Advance Learners’ dictionary of Current English. New York: Oxford University Press.
Schonell, F. Meddleton, I., Shaw, B., Routh, M., Popham, D., Gill, G., Mackrell, G., and Stephens, C. (1956). A study of the oral vocabulary of adults. Brisbane and London:University of Queensland Press / University of London Press.
Thornbury, Scott. 2002. How To Teach Vocabulary. Malaysia: Pearson Education Limited.
Tipper, Michael. 7 Reasons to add colour to your mind maps, (online) (http://www.michaelonmindmapping.com/blog/mind-maps/7-reasons-to-add-colour-to-your-mind-maps/, diakses pada 9 September 2012).


2. Agus Bambang Irawan (SMP Negeri 4 Cijaku)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK SISWA DALAM BERKENALAN DENGAN ORANG LAIN DENGAN MEDIA AUDIO LINGUAL (AUDIO LINGUAL MEDIA) DI KELAS VII (TUJUH) A SMPN SATAP 4 CIJAKU TAHUN 2012/2013


BAB I. PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa merupakan faktor yang sangat penting  dalam kehidupan ini. Tanpa bahasa manusia  tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa terdiri dari bahasa lisan dan tulisan. Dari setiap jenis bahasa ini mempunyai kegunaan yang berbeda. Bahasa juga sangat beragam, ada bahasa ibu (daerah), bahasa nasional dan bahasa asing.
Dalam bahasa tersebut, ada empat skill/keterampilan yang harus dikuasai oleh para siswa. Keempat skill tersebut adalah LISTENING, SPEAKING, READING, dan WRITING. Keempat skill itu saling berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Listening dengan Speaking dan Reading dengan Writing. Dalam hal berkomunikasi, listening/menyimak sangat penting, karena menyimak ini berhubungan langsung dengan indera pendengaran. Menyikapi hal ini, khususnya dalam bahasa inggris, penulis ingin menuangkan ide dan pemikirannya dalam memecahkan masalah tersebut. Maka dengan ini, penulis berinisiatif melakukan pembelajaran listening dengan metode Audio Lingual dan pembelajaran tersebut dilaksanakan di kelas VII (Tujuh) dengan tujuan meningkatkan kemampuan menyimak siswa. Adapun kegiatan tersebut dinamakan PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK SISWA DALAM BERKENALAN DENGAN ORANG LAIN (INTRODUCING WITH OTHER) DENGAN MEDIA AUDIO LINGUAL (AUDIO LINGUAL MEDIA) DI KELAS VII (TUJUH) SMPN SATAP 4 CIJAKU TAHUN PELAJARAN 2012/2013.

  1. IDENTIFIKASI MASALAH
1.      Bagaimana minat belajar bahasa inggris siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?
2.      Bagaimana minat belajar listening/menyimak siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?
3.      Apakah metode Audio Lingual mampu dikuasai oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?
4.      Mengapa listening/menyimak harus dipelajari oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?

  1. PEMBATASAN DAN RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana minat belajar bahasa inggris siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?
2.      Bagaimana minat belajar listening siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?
3.      Apakah metode Audio Lingual mampu dikuasai oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013?

  1. TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan umum
Sebagai masukan bagi sekolah, guru, dan siswa dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di kelas.
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui minat belajar siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013 terhadap bahasa inggris.
b.      Untuk mengetahui minat belajar siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013 terhadap listening.
c.       Untuk mengetahui kemampuan menyimak siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun 2012/2013 dengan metode Audio Lingual.

  1. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1.      SMP Negeri Satap 4 Cijaku
Hasil penelitian ini bisa menjadi tolak ukur untuk sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan belajar siswa di semua bidang studi yang mereka pelajari di sekolah.
2.      Guru
Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya.
3.      Siswa
Sebagai bahan masukan bagi siswa dalam menguasai keterampilan berbicara.


BAB II. KAJIAN PUSTAKA
  1. KAJIAN TEORI
1.      Menyimak
a.       Pengertian Menyimak
Tarigan (1994:28) menyatakan bahwa menyimak adalah suatau proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sedangkan hakikat menyimak menurut Anderson dalam Tarigan (1994:28) menyatakan bahwa menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Menyimak dapat pula bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi (Russell & Russell; Anderson dalam Tarigan (1994:28).
Pengertian menyimak menurut Akhadiah dalam Sutari, dkk.(1998:19) ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.
Menyimak mempunyai arti yang sama dengan mendengarkan.
Mendengarkan menurut Subyantoro dan Hartono (2003:1-2) adalah memberikan
pengertian bahwa mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan
dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar. Dalam hal ini
rangsangan bunyi yang dimaksud untuk didengar adalah bunyi-bunyi bahasa yang
diucapkan oleh orang dalam suatu peristiwa komunitas. Keterampilan menyimak
dapat diartikan pula sebagai koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik
keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis (Rahmina. 2006.
Upaya  Meningkatkan Kemampuan    Menyimak       Pembelajar. Http//
www.lalf.edu/kipbipa?papers/Iim Rahmina.doc.).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah mendengarkan lambang-lambang bunyi yang dilakukan dengan sengaja dengan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi, interprestasi, reaksi dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi, menangkap isi dan merespon makna yang terkandung di dalamnya.

b.      Tujuan Menyimak
Tujuan menyimak menurut Lagon dalam Tarigan, (1994: 56).
1)      Menyimak untuk belajar, yaitu untuk memperoleh pengetahuan dari ujaran pembicara.
2)      Menyimak untuk menikmati keindahan audial, yaitu menyimak dengan menekankan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan.
3)      Menyimak untuk mengevaluasi. Menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai apa-apa yang dia simak (baik-buruk, indah-jelek, dan lain-lain).
4)      Menyimak untuk mengapresiasi materi simakan. Orang menyimak agar dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya.
5)      Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri. Orang menyimak dengan maksud agar dapat mengkomunikasikan ide, gagasan, maupun perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.
6)      Menyimak dengan maksud dan tujuan dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat.
7)      Menyimak untuk memecahkan masalah secara kreatif dan analisis.
8)      Menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang diragukan (disarikan dari:Logan [et al]; Shrope dalam Tarigan 1994:56).

c.       Manfaat Menyimak
Menurut Setiawan (dalam Suratno 2006:16-18) manfaat menyimak sebagai berikut :
1)       Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informatif yaitu memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.
2)      Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khasanah ilmu kita.
3)      Memperkaya kosa kata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata-kata yang digunakan lebih variatif.
4)      Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan objektif.
5)      Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
6)      Meningkatkan citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus dan bahasanya. Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sikap apresiatif, sikap menghargai karya atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera estetis kita.
7)      Menggugah kreativitas dan semangat mencipta kita untuk menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.

d.      Ragam Menyimak
Ragam menyimak menurut Tarigan (1994:35-49 ) adalah sebagai berikut:
1)      Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu dibawah bimbingan langsung dari seorang guru. Jenis-jenis menyimak ekstensif yaitu: menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak pasif.
2)      Menyimak Intensif
Kalau menyimak ekstensif lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu dibawah bimbingan langsung para guru, maka menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.
e.       Faktor yang Mempengaruhi Menyimak
Menurut Tarigan (1994:99-107) faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak adalah sebagai berikut :
1)      Kondisi fisik seseorang penyimak merupakan faktor penting yang turut menentukan keefektifan serta kualitas serta kualitas dalam menyimak
2)      Faktor psikologis juga mempengaruhi proses menyimak. Faktor psikologis yang positif memberi pengaruh yang baik, sedangkan faktor psikologis yang negatif memberi pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak. Faktor positif yang menguntungkan bagi kegiatan menyimak misalnya pengalaman masa lalu yang menyenangkan, yang telah menentukan minat dan pilihan, kepandaian yang beraneka ragam. Faktor negatif antara lain prasangka dan kurang simpati, keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi, pandangan yang kurang luas, kebosanan dan kejenuhan, sikap yang tidak layak terhadap pembicara.
3)      Faktor Pengalaman Sikap   merupakan   hasil   pertumbuhan   dan   perkembangan   pengalaman. Kurangnya minat merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang disimak.
4)      Faktor Sikap Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama mengenai segala hal, yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya, tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada menyimak, masing-masing dampak positif dan dampak negatif.
5)      Faktor Motivasi Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan. Begitu pula halnya dengan menyimak.
6)    Faktor Jenis Kelamin Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda pula. Julian Silverman, misalnya, menemui fakta-fakta bahwa gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrusif (bersifat mengganggu), berdikari atau mandiri, sanggup mencukupi kebutuhan sendiri (swasembada), dapat menguasai atau mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah atau simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi atau gampang terpengaruh, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak berdikari), dan emosional (Silverman, dalam Tarigan  (1994:108-109)
7)      Faktor Lingkungan Berpengaruh besar terhadap keberhasilan menyimak khususnya, terhadap keberhasilan belajar para siswa pada umumnya. Faktor lingkungan berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik menyangkut pengaturan dan penataan ruang kelas serta sarana dalam pembelajaran menyimak. Lingkungan sosial mencakup suasana yang mendorong anak-anak untuk mengalami, mengekspresikan, serta mengevaluasi ide-ide.
8)      Faktor Peranan dalam Masyarakat Kemampuan menyimak dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat.   Peranan   dalam   masyarakat   menjadi   faktor   penting   bagi peningkatan kegiatan menyimak.

f.       Tahap-tahap Menyimak
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Sudah barang tentu dalam proses ini terdapat tahap-tahap. Tahap-Tahap menyimak menurut Tarigan (1994:58-59)

1)      Tahap Mendengar
Dalam tahap ini kita baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Jadi kita masih berada pada tahap hearing.
2)      Tahap Memahami
Setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh sang pembicara, maka sampailah kita pada tahap understanding.
3)      Tahap Menginterpretasi
Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu, dengan demikian maka sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4)      Tahap Mengevaluasi
Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, sang penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan sang pembicara, dimana keunggulan dan kelemahan, dimana kebaikan dan kekurangan sang pembicara; maka dengan demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
5)      Tahap Menanggapi
Merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak; sang penyimak menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya; sang penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding).
2.      Audio Lingual Media
Media audio merupakan media pembelajaran yang pemakaiannya dilakukan dengan cara diproyeksikan melalui arus listrik dalam bentuk suara. Misalnya, radio, tape recorder. Dan media yang diproyeksikan ke layar monitor dalam bentuk gambar dan suara misalnya, Televisi, Video, Film, DVD dan VCD. Melalui media ini seseorang tidak hanya dapat melihat atau mengamati sesuatu melainkan sekaligus bisa mendengar segala sesuatu yang divisualisasikan (Hastuti, 2006:208). Djamarah dan Zain (2006 : 124-125) menjelaskan bahwa media audio adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu media yang pertama adalah media audio diam yaitu media yang menampilkan suara dan gambar seperti film bingkai suara (sound slides), film rangka suara, dan cetak suara. Sedangkan media yang kedua adalah audio gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video-cassette.
Media audio yang digunakan dalam penelitian ini berupa speaker portable. Media speaker portable merupakan media suara (audio) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Media ini mampu menggugah perasaan dua pikiran siswa, memudahkan pemakaian materi dan menarik minat siswa untuk belajar.
Penggunaan media audio dalam proses pembelajaran menyimak berita diharapkan dapat mempertinggi proses dan hasil pembelajaran sehingga kompetensi ini benar-benar dikuasai siswa. Selain itu menjadikan proses pembelajaran lebih bervariasi dan menarik, karena dengan penggunaan media audio siswa tidak hanya dapat mendengar tetapi juga bisa melihat segala sesuatu yang disimaknya.
3.      Berkenalan dengan orang lain
Mempunyai banyak teman merupakan harapan semua orang. Dalam pertemanan pun selalu ada canda, tawa bahkan tangisan. Setiap orang juga selalu ingin menambah teman dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika itu terjadi, maka berkenalan dengan orang lain sangat diperlukan dan sangat penting. Bagaimana bisa memperbanyak teman kalau kita tidak berkenalan dengan orang lain.
Dalam berkenalan pun kita harus memperhatikan beberapa hal, yakni sikap, bahasa yang digunakan, tata karma, dan logat.
4.      Kerangka Berfikir
Keterampilan menyimak di sekolah perlu ditingkatkan karena dengan keterampilan menyimak dengan baik, siswa akan memiliki dan mengaplikasikan keterampilan-keterampilan yang baik pula. Selain itu siswa diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
Keterampilan menyimak siswa kelas VII SMPN Satap 4 Cijaku belum optimal. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dari siswa sendiri yaitu: (1) Sikap siswa yang meremehkan keterampilan menyimak. Agar siswa tidak meremehkan keterampilan menyimak guru harus dapat memberikan penjelasan tentang manfaat menyimak; (2) Siswa sulit menghubungkan berbagai ide-ide yang didengar. Hal ini dapat diatasi dengan cara latihan yang bertahap; (3) Kondisi fisik siswa yang lelah pada jam pelajaran akhir. Dalam memecahkan masalah pada jam terakhir kondisi fisik siswa yang lelah, dengan cara siswa diajak untuk mendengarkan bahan simakan yang menarik; (4) Kebiasaan siswa menyimak sambil mencatat. Hal ini merupakan kebiasaan yang kurang baik karena dapat mengacaukan konsentrasi. Guru menyuruh mencatat hal-hal yang penting saja misalnya kosakata sukar.
Sedangkan faktor dari guru yaitu penggunaan media pembelajaran yang masih terbatas dan belum digunakan secara maksimal. Dalam proses pembelajaran, siswa hanya menyimak dari pembacaan teks yang dilakukan oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kebosanan dan kurang termotivasi untuk belajar menyimak, dan akhirnya berpengaruh pada penguasaan keterampilan menyimak yang rendah serta hasil belajar yang kurang memuaskan.
Dengan adanya permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan memanfaatkan media audio dalam pembelajaran berkenalan dengan orang lain.


BAB III. METODE PENELITIAN

  1. OBJEK TINDAKAN
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK merupakan suatu bentuk penelitian reflektif diri yang secara kolektif dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan sosial mereka, serta pemahaman mereka mengenai praktek ini dan terhadap situasi tempat dilakukan praktek-praktek ini (Kemmis dan Taggart dalam Riyanto 2001:49)

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Kemmis dan Taggart (dalam Riyanto 2001:58) menggambarkan daur PTK sebagai berikut.
 Tindakan penelitian ini dilakukan dua siklus sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penelitian terhadap proses tindakan sebelumnya, akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang.
 
 

  1. SETTING/LOKASI/SUBJEK PENELITIAN
1.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertempat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Satu Atap 4 Cijaku, Kp. Pamundayan Ds. Mekarjaya Kec. Cijaku Kab. Lebak - Banten 42395.
2.      Objek Penelitian
Adapun objek penelitian ini dilakukan di kelas VII A SMPN Satap 4 Cijaku.
3.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama dua hari, yakni tanggal 11 dan 13 September 2012.

  1. METODE PENGUMPULAN DATA
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II. Pada hasil tes siklus I dianalisis, dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam kegiatan menyimak berita, yang selanjutnya sebagai dasar untuk menghadapi tes pada siklus II, yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes siswa pada siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan berkenalan dengan orang lain menggunakan media audio.

  1. METODE ANALISIS DATA
Analisis data tes secara kuantitatif dihitung dengan cara persentase, dengan cara: (1) merekap nilai yang diperoleh oleh siswa, (2) menghitung nilai kumulatif, (3) menghitung nilai rata-rata, dan (4) menghitung persentase.
Rumus nilai persentase adalah NP = NK x 100%
R
Keterangan:
NP    = Nilai persentase
NK   = Nilai Kumulatif
R      = Jumlah Responden

Untuk mengetahui terdapat peningkatan hasil pembelajaran menyimak atau tidak maka hasil nilai siklus I dibandingkan dengan nilai siklus II. Melalui perhitungan ini akan diketahui peningkatan kemampuan menyimak menggunakan media audio.

BAB IV. HASIL PENELITIAN

  1. GAMBARAN SELINTAS TENTANG SETTING
SMPN Satap 4 Cijaku merupakan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang dibangun pada 2007 yang lalu. Sekolah tersebut terletak di Kp. Pamundayan Ds. Mekarjaya Kec. Cijaku Kab. Lebak – Banten 42395. Sekarang Sekolah tersebut sudah mempunyai empat rombongan belajar, kelas VII berjumlah dua kelas dan kelas VIII dan IX masing-masing satu kelas.

  1. PENJELASAN PER SIKLUS
1.   Prosedur Tindakan pada siklus I
Prosedur tindakan pada siklus I terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
a.        Perencanaan
Dalam tahap perencanaan ini peneliti mempersiapkan proses pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain menggunakan media audio dengan langkah-langkah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan, (2) menyiapkan bahan materi simakan, (3) menyusun rancangan evaluasi yang meliputi tes, (4) melakukan kolaborasi.
b.        Tindakan
Tindakan yang akan dilakukan harus sesuai dengan perencanaan. Pada tahap ini guru melakukan tindakan dalam proses pembelajaran. Tindakan yang dilakukan dalam tahap ini terdiri atas pendahuluan, inti, dan penutup.
1)        Pendahuluan
Tahap pendahuluan merupakan tahap untuk mempersiapkan mental siswa dan mengkondisikan siswa agar mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Persiapan dilakukan dengan cara memancing pengetahuan siswa tentang keterampilan menyimak menggunakan media audio.
2)        Inti
Tahap inti merupakan tahap melaksanakan kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain. Pada tahap ini, peneliti menjelaskan materi menyimak, menerangkan hakikat berkenalan dengan orang lain. Siswa diminta untuk menyimak. Setelah kegiatan menyimak, siswa diminta menjawab pertanyaan dari guru melalui tes dengan menggunakan rekaman dari flasdisk melalui media sound.
Inilah hasil tes pada siklus I
NO
NAMA SISWA
SIKLUS I
1
AGUS GUSTINA
78
2
ALI FATHUROHMAN
80
3
ANDREANSYAH AMANDA
79
4
APIP ANDREANSYAH
75
5
ARUM MAHFUDOH
80
6
DEDE SUPRIATNA
83
7
DEWI YULYANTI
80
8
ERI LESTARI
79
9
FAZRIANAH
80
10
FERI FIRDAUS
76
11
HARIS MAULANA YUSUF
84
12
HENGKI SUHERLAN
77
13
MUHAMAD SAEPUDIN
73
14
NADIA INDRIYANTI
76
15
NADILAH KHOIRU SOLIHAH
76
16
RAMDANI
76
17
RIAN HIDAYAT
81
18
RIKO APRIANTO
77
19
RINALDI IMAM TAUFIK
83
20
SANTI NURAENI
80
21
SARHAMAH
77
22
SITI SOFIYAH
79
23
SOPYAN
78
24
SUHAEDAH
78
25
SUHERDI
83
26
SUTARNA
76
27
UGI SUGIARTA
70
28
WULANDARI
76
29
YENI
72
30
YUNENGSIH
75

JUMLAH
2337

RATA-RATA
77.9

3)        Penutup
Pada tahap ini peneliti bersama siswa mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang berlangsung dan membuat simpulan terhadap pembelajaran keterampilan menyimak.
c.         Observasi
Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Adapun aspek yang diamati adalah perilaku siswa baik yang positif maupun negatif.
d.        Refleksi
Setelah pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan analisis terhadap hasil tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara yang telah dilakukan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui: (a) kelebihan dan kekurangan teknik dan media audio yang digunakan yang digunakan oleh peneliti dalam proses pembelajaran siklus I; (b) kelebihan dan kekurangan materi menyimak berita; (c) tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran; (d) tindakan-tindakan yang dilakukan peneliti selama proses pembelajaran. Refleksi pada siklus I dilakukan untuk mengubah strategi pembelajaran pada siklus II.
2.            Prosedur Tindakan pada Siklus II
a.                  Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada siklus II, merupakan penyempurnaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain, (2) menyiapkan bahan materi simakan yang berbeda, (3) menyusun perbaikan instrumen yang berupa data tes, dan (4) dalam berkolaborasi peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru lain dan teman sejawat.
b.                  Tindakan
1)                  Pendahuluan
Ada beberapa pembaharuan tindakan pada tahap ini. Sebelum siswa menyimak berita, guru menjelaskan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan yang
terjadi pada siklus I. peneliti menanyakan kembali materi yang telah diberikan peneliti pada pertemuan yang lalu. Peneliti meminta siswa agar lebih konsentrasi dalam kegiatan menyimak.
2)                  Inti
Guru menjelaskan kembali materi menyimak berkenalan dengan orang lain, menerangkan hakikat berkenalan dengan orang lain, dan menyiapkan kembali materi simakan yang berbeda. Setelah kegiatan menyimak, siswa diminta untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru melalui tes dengan menggunakan rekaman kaset.
Hasil tes pada siklus II
NO
NAMA SISWA
SIKLUS II
1
AGUS GUSTINA
80
2
ALI FATHUROHMAN
86
3
ANDREANSYAH AMANDA
80
4
APIP ANDREANSYAH
80
5
ARUM MAHFUDOH
80
6
DEDE SUPRIATNA
80
7
DEWI YULYANTI
78
8
ERI LESTARI
80
9
FAZRIANAH
78
10
FERI FIRDAUS
78
11
HARIS MAULANA YUSUF
80
12
HENGKI SUHERLAN
85
13
MUHAMAD SAEPUDIN
75
14
NADIA INDRIYANTI
70
15
NADILAH KHOIRU SOLIHAH
79
16
RAMDANI
78
17
RIAN HIDAYAT
80
18
RIKO APRIANTO
75
19
RINALDI IMAM TAUFIK
82
20
SANTI NURAENI
80
21
SARHAMAH
80
22
SITI SOFIYAH
76
23
SOPYAN
80
24
SUHAEDAH
86
25
SUHERDI
78
26
SUTARNA
77
27
UGI SUGIARTA
70
28
WULANDARI
80
29
YENI
75
30
YUNENGSIH
77

JUMLAH
2363

RATA-RATA
78.76667
3)                  Penutup
Pada tahap ini peneliti bersama siswa mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang berlangsung dan membuat simpulan terhadap pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain.
c.                   Observasi
Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan lembar pedoman observasi. Aspek-aspek yang diobservasi pada siklus II meliputi aspek positif dan negatif.
d.                  Refleksi
Refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunaan strategi kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain menggunakan media audio untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan perbaikan tindakan pada siklus I. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain yang dilakukan pada siklus II.
Refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I. Tujuan refleksi ini adalah untuk menentukan kemajuan- kemajuan yang telah dicapai selama proses pembelajaran dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang muncul dalam pembelajaran. Kemajuan yang dicapai pada siklus II adalah peningkatan nilai tes menyimak berkenalan dengan orang lain dan perubahan tingkah laku siswa dari negatif menjadi positif.

  1. PROSES MENGANALISIS DATA
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II. Pada hasil tes siklus I dianalisis, dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain, yang selanjutnya sebagai dasar untuk menghadapi tes pada siklus II, yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes siswa pada siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain menggunakan media audio.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
  1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pada siklus I dan II terjadi perubahan nilai. Walaupun kenaikan hanya 10%, itu tetap menunjukan perubahan yang besar karena nilai pada siklus I pun sudah besar. Ini menandakan bahwa peningkatan keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain cocok dengan menggunakan media audio lingual.
  1. SARAN UNTUK TINDAKAN LEBIH LANJUT
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan untuk menggunakan media audio lingual dalam pembejaran listening/menyimak. Penulis juga mengharapkan saran lain dari para pembaca untuk perbaikan PTK ini ke depan. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, Amin.

  
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Keterampilan Menyimak. Jakarta: Depdiknas.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Nurgiantoro, Burhan. 1988. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jogjakarta: BPFE.
Rahmina, Iim.2006. Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Pembelajar. UNES Press
Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC
Subyantoro dan Bambang Hartono. 2003. Pengembangan Kemampuan Berbahasa (Pembelajaran Keterampilan Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan Menulis). Makalah Disajikan pada Pelatihan Terintegtasi Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Tahun 2003.

 
Sutari, Ice dkk. 1997. Menyimak. Jakarta: Depdikbud.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar