Contoh-contoh PTK Bahasa Inggris
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris
Wilayah Bina 06 Kabupaten Lebak
1. Lia Nurlianingsih, S.Pd. (SMP Negeri 2 Malingping)
Tahun
Pelajaran 2012/2013 di SMP Negeri 2 Malingping
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tidak
dapat dipungkiri lagi bahwa bahasa Inggris merupakan satu – satunya bahasa yang
paling banyak digunakan di dunia ini. Posisi bahasa Inggris di dunia saat ini
sama dengan posisi bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia
yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan tentu memiliki bahasa daerah
sendiri – sendiri, dapat berkomunikasi secara baik menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional. Begitu juga dengan bahasa Inggris. Bangsa – bangsa di
seluruh dunia yang memiliki bahasa ibu masing – masing, saling berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Inggris.
Dari
sini dapat kita sadari betapa penting peranan bahasa Inggris dalam pergaulan
internasional. Jika suatu bangsa tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Inggris, sudah bisa dipastikan bahwa ia akan
terkucilkan dari pergaulan bangsa – bangsa di seluruh dunia. Belum lagi kalau
kita bicara mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini, barat, sebagai
bangsa pengguna asli bahasa Inggris, masih menjadi pemimpin dalam hal ilmu
pengetahuan dan teknologi. Artinya, jika kita ingin menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi, kita harus menguasai bahasa Inggris dulu untuk mewujudkannya.
Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang diajarkan di universitas – universitas luar
negeri tersimpan dalam bahasa tulis yang harus kita baca. Agar yang kita baca
itu berhasil guna, kita harus benar – benar memahami isi dari bacaan itu. Oleh
karena itu, dalam Kompetensi Dasar (KD) pada lampiran Standar Isi bahasa
Inggris kelas VIII (BSNP, 2006), disebutkan bahwa idealnya siswa kelas VIII
mampu: “Merespon makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana secara
akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar dalam
teks berbentuk recount dan narrative”
Selanjutnya
dalam Lampiran Standar Isi Bahasa Inggris (BSNP, 2006) ditulis bahwa
pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat
mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk
menyelesaikan masalah sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau
petunjuk. Untuk memahami kalimat – kalimat dalam bahasa Inggris, diperlukan
perbendaharaan kosakata bahasa Inggris yang cukup. Bahkan, penguasaan kosakata
dalam bahasa Inggris itu jauh lebih penting daripada penguasaan tata bahasanya.
Dellar dan Hocking (dalam Thornbury, 2002:13) mengatakan: “Jika anda
mempelajari tata bahasa sepanjang waktu, Bahasa Inggris anda tidak akan begitu
mengalami peningkatan. Bahasa Inggris anda akan meningkat jika anda mempelajari
lebih banyak kosakata dan ekspresi – ekspresi. Dalam berbicara, anda hanya akan
membutuhkan sedikit tata bahasa. Tapi anda bisa mengatakan apapun dengan
kosakata.”
Seseorang
dikatakan berhasil dalam mempelajari sebuah bahasa asing, jika ia memiliki
perbendaharaan kata yang cukup. Maka, mempelajari kosakata saja tanpa mampu
mengingatnya untuk dimanfaatkan di masa mendatang tentu sia – sia saja. Karena
itulah Thornbury (2002:23) menambahkan: “Siswa tidak hanya perlu mempelajari
banyak kosakata tetapi juga harus mempelajari bagaimana untuk mengingatnya.”
Namun untuk mengingat kosakata yang telah dipelajari untuk dipergunakan lagi di
masa mendatang tidak selalu mudah dilakukan. Guru selalu mengenalkan kosakata –
kosakata baru dalam pembelajaran. Namun, ketika guru membuat soal yang
berkenaan dengan kosakata – kosakata baru itu, siswa kelas VIII A SMP Negeri 2
Malingping kesulitan dalam menyelesaikannya. Siswa dengan sangat cepat
melupakan kosakata – kosakata baru yang telah mereka pelajari sebelumnya
sehingga mereka tidak bisa menyelesaikan soal. Terlebih lagi jika soal – soal
itu mengandung kata kerja bentuk ke dua, jenis kata kerja dalam bahasa Inggris
yang banyak dipakai dalam teks recount. Perubahan kata kerja yang membutuhkan
kekuatan ingatan begitu mudah hilang dari memori siswa.
Perubahan
kata kerja untuk menunjukkan waktu terjadinya peristiwa memang tidak ada dalam
bahasa Indonesia. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang hanya menggunakan kata
kemarin, saat ini, besok, lusa atau tahun depan untuk menujukkan waktu
terjadinya peristiwa, bahasa Inggris juga memerlukan berubahnya kata kerja.
Inilah yang membuat siswa kesulitan. Biasanya, kosakata – kosakata baru
dipelajari dengan membuka kamus kemudian menuliskan arti dari kata – kata itu
di buku catatan. Dalam jangka waktu yang pendek, siswa masih bisa mengingat
arti sebuah kata atau membuka catatan untuk menemukan arti dari sebuah kata
jika kata itu muncul kembali dalam sebuah bacaan. Namun dalam jangka waktu yang
panjang siswa tidak lagi ingat arti dari kata itu atau dimana arti kata itu
ditulis dalam buku mereka.
Dapat
dipastikan bahwa metode menuliskan arti dari sebuah kosakata baru di buku
catatan bukan cara yang tepat untuk menambah perbendaharaan kata. Diperlukan
metode yang baru agar siswa memiliki hafalan yang kuat sehingga kosakata yang
telah dipelajari akan terus diingat. DePotter dan Hernacki (1999:152)
mengatakan bahwa otak manusia mengingat informasi dalam bentuk gambar, symbol,
suara, bentuk – bentuk dan perasaan. Metode pencatatan konvensional yang linier
tidak sesuai dengan kinerja otak dalam mengingat informasi.
Mind
Map (Peta Pikiran) adalah sebuah teknik pencatatan yang dikembangkan oleh Tony
Buzan pada tahun 1970-an. Mind Map menggunakan tulisan dan gambar yang berwarna
untuk merangsang ingatan. Mengenai kekuatan otak dalam mengingat informasi
dalam bentuk gambar, terdapat sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Ralph Haber
(dalam Buzan, 1993:71) yang membuat ia mengatakan bahwa otak mengenal gambar
dengan sangat sempurna. Karena itulah penulis menggunakan Mind Map yang
dikembangkan oleh Tony Buzan ini sebagai sarana untuk memperkuat ingatan akan
kosakata bahasa Inggris yang telah dipelajari.
Penelitian
dengan menggunakan Mind Map ini dikatakan berhasil jika siswa mampu mengingat
arti kosakata yang telah mereka pelajari dalam jangka waktu tertentu. Dan jika
kosakata – kosakata itu dipergunakan dalam kalimat yang berbeda, mereka bisa
memahami makna dari kalimat itu.
B.
Rumusan
Masalah
Penguasaan
kosakata yang cukup merupakan syarat dalam memahami kalimat – kalimat dalam
bahasa Inggris. Kenyataannya siswa seringkali lupa dengan kosakata yang telah
mereka pelajari, sehingga mereka tidak mampu memahami kalimat–kalimat yang
mengandung kosakata–kosakata itu. Berdasarkan deskripsi masalah di atas, maka dirumuskan
masalahnya sebagai berikut: “Bagaimana mind mapping dapat meningkatkan
penguasaan vocabulary pada pembelajaran writing text recount siswa kelas VIII A
semester I SMP Negeri 2 Malingping Tahun Pelajaran 2012/2013”
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
pernyataan masalah pada di atas, tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah
untuk meningkatkan penguasaan vocabulary pada pembelajaran writing text recount
siswa kelas VIII A semester I SMP Negeri 2 Malingping Tahun Pelajaran 2012/2013
melalui media mind mapping.
D.
Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat hasil penelitian ini:
1. Bagi
Siswa: meningkatkan kemampuan mereka dalam mengingat makna kosakata bahasa
Inggris .
2. Bagi
Guru: merupakan media untuk mengajarkan kosakata menjadi lebih efektif dan
menyenangkan.
3. Bagi
Sekolah: memotivasi guru lain untuk mencoba menggunakan Mind Map sebagai sarana
untuk menguatkan ingatan siswa akan arti dari kosakata bahasa Inggris.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Vocabulary
Mempelajari
suatu bahasa tidak akan lepas dari mempelajari kosakata (vocabulary) yang membentuk
bahasa itu sendiri. Berikut ini pengertian vocabulary: Hornby (2000:1331)
mengatakan bahwa vocabulary adalah sebuah daftar dari kata – kata dalam sebuah
bahasa dengan maknanya sekaligus. Dari definisi yang disampaikan oleh Hornby di
atas dapat disimpulkan bahwa vocabulary merupakan elemen dasar dan terpenting
dari sebuah bahasa. Awalnya permbelajaran bahasa Inggris di Indonesia
didonimasi oleh pembelajaran tata bahasa. Kosakata hanya digunakan sebagai
pelengkap. Hal ini bisa dilihat dari buku – buku ajar yang digunakan di tingkat
SMP dan SMA pada saat itu.
Pada
tahun 1984, Swan dan Walter, dalam pembukaan buku Cambridge English Course
menulis bahwa penguasaan vocabulary merupakan hal terpenting bagi orang yang
mempelajari bahasa Inggris (Thornbury, 2002:14). Pembelajaran yang banyak
mengajarkan tata bahasa dianggap akan lebih efektif karena tata bahasa
membentuk kalimat–kalimat. Namun, setelah anggapan ini terbukti keliru,
pembelajaran bahasa Inggris tidak lagi menempatkan vocabulary hanya sebagai
tambahan semata. Siswa harus menguasai sebanyak mungkin kosakata yang
diperlukan. Seseorang yang akan bepergian ke luar negeri harus menguasai
kosakata–kosakata yang dapat membantu ia dalam aktivitasnya di luar negeri itu.
Begitu juga dengan seseorang yang akan melanjutkan studinya di luar negeri.
Namun, jumlah kosakata yang harus dikuasai oleh kedua orang itu tentu berbeda.
Orang yang akan melanjutkan studi ke luar negeri dituntut untuk memiliki
kosakata yang jauh lebih banyak daripada orang yang hanya akan bepergian ke
luar negeri.
Berapa
kosakata yang perlu dikuasai agar dapat dipakai dalam berbagai situasi? Untuk
memenuhi hal ini, seseorang setidaknya harus menguasai 2.000 kosakata
(Schonell, Meddleton, Shaw, Routh, Popham, Gill, Mackrell, and Stephens, 1956).
2.000 kata ini merupakan 87% kata yang dipakai dalam teks tertulis dan 80% kata
yang dipakai dalam teks akademis (Nation, 1990). 2.000 kosakata merupakan
kosakata yang secara umum dikuasai oleh penutur asli. Angka itu juga merupakan
jumlah kata yang terdapat dalam rata – rata kamus. Karena siswa kelas VIII SMP
ditargetkan mampu menguasai bahasa Inggris secara functional yakni
berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari
seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk, akan lebih baik bagi mereka
jika menguasai kosakata yang mendekati angka itu.
Menguasai
vocabulary bukanlah suatu hal yang mudah. Berapapun yang kita pelajari akan mudah
kita lupakan dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi jika kita tidak
mempraktekkan apa yang telah kita pelajari itu. Beberapa penelitian
mengungkapkan apa – apa saja yang perlu dilakukan agar kosakata yang telah
dipelajari dapat terus diingat (Thornbury, 2002:24). Berikut diantaranya: (1).
Pengulangan: Jika sebuah kata diulang beberapa kali dalam satu bacaan, bisa
dipastikan bahwa kata itu akan lebih diingat daripada kata yang lain. (2).
Gunakan: Selalu gunakan kosakata yang telah dipelajari. Penggunaan kata itu
bisa dalam bentuk penulisan kalimat atau menggunakannya dalam berbicara. (3).
Menggambarkan: Cara terbaik untuk mengingat sebuah kata adalah dengan
menggambarkannya dalam pikiran. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kata yang
mudah untuk digambarkan secara mental, lebih mudah diingat daripada kata yang
sulit untuk digambarkan. (4). Motivasi: Hanya dengan memiliki keinginan untuk
mempelajari kosakata tidak berarti kosakata itu kemudian mudah untuk diingat.
Motivasi memungkinkan seorang pembelajar untuk meluangkan lebih banyak waktu
untuk mengulang dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari. (5). Perhatian:
Kata yang lebih memicu respon emosional akan lebih mudah diingat daripada kata
yang tidak memicu respon emosional.
B.
Mind
Mapping
Mind
Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh
Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan
informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan
informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan
pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan
tampak seperti cabang-cabang pohon. Dari fakta tersebut maka disimpulkan
apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan
semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja
proses belajar kita akan semakin mudah.
Dari
penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan
tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau
tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan
antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka
fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang
utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut
dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa
mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana
saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
C.
Cara
Membuat Mind Mapping
Waruwu,
dalam presentasinya memaparkan langkah – langkah dalam membuat mind mapping.
Berikut cara – cara membuat mind mapping:
1. Mulailah
dari tengah kertas kosong.
2. Gunakan
gambar (simbol) untuk ide utama.
3. Gunakan
berbagai warna.
4. Hubungkan
cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting- ranting yang berhubungan
ke cabang dan seterusnya.
5. Buatlah
garis hubung yang melengkung.
6. Gunakan
satu kata kunci untuk setiap garis
7. Gunakan gambar.
Sedangkan
secara teknis, Buzan dalam bukunya, The Mind Map Book, memaparkan tiga hal
untuk menulis mind mapping:
1.
Gunakan Penekanan
a. Selalu
gunakan gambar di tengah – tengah kertas
b. Gunakan
gambar di seluruh mind mapping
c. Gunakan
tiga atau lebih warna untuk gambar utama
2.
Gunakan Asosiasi
a. Gunakan
panah ketika akan membuat koneksi antar cabang
b. Gunakan
warna dan kode
3.
Jelas
a. Gunakan
hanya satu kata kunci per garis
b. Buatlah
garis sejajar dengan panjang kata
c. Hubungkan
satu garis dengan garis lainnya
d. Tebalkan
garis utama
e. Gambarlah
sejelas mungkin
f. Letakkan
kertas secara horizontal
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
dan Desain Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang mengacu pada model Kemmis
dan M.C Taggart (1988) yang terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. PTK direncanakan dilaksanakan dalam dua
siklus.
B.
Kehadiran
Peneliti di Lapangan
Peneliti
sebagai perencana, pengajar, pengamat, pelaksana pengumpulan data, penganalisa
data, dan pelapor hasil penelitian.
C.
Lokasi
Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Malingping, Jalan Raya Saketi KM. 10
Malingping, pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Subjek penelitian
sebanyak 35 siswa.
D.
Data
dan Sumber Data
1. Data
a. Lembar
penilaian kognitif yang diperoleh dari nilai peserta didik dalam menyelesaikan
soal kuis, soal ulangan harian yang diberikan setiap siklus dan lembar
penilaian psikomotor yang diperoleh dari peniliaian selama proses pembelajaran
b. Lembar
penilaian afektif
c. Hasil respon peserta didik berdasarkan angket
d. Dokumentasi
e. Catatan
Lapangan
2. Sumber
Data
a.
Peserta didik, pengamat, dan peneliti
E.
Instrumen
Penelitian
a. Alat
Pengumpulan Data
1. Tes
yaitu kuis dan ulangan harian (ranah kognitif).
2. Format
penilaian proses belajar (ranah psikomotor)
3. Format peniliaian afektif
4. Angket
respons peserta didik
b. Metode
Pengumpulan Data
1. Observasi
2. Catatan
Lapangan
F.
Analisis
Data
Teknik
yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Tahap – tahap kegiatan analisis
data (Miles dan Huberman, 1992) adalah: mereduksi data, menyajikan data,
menarik kesimpulan, dan verifikasi
G.
Pengecekan
Keabsahan Penelitian
Teknik
pengecekan yang digunakan adalah teknik pengecekan teman sejawat (Moleong,
1994)
H.
Tahap
– Tahap Penelitian
1.
Tahap
Pendahuluan (Pra Tindakan)
a. Menyusun
jadwal penelitian
b. Menentukan observer dan melaporkan ke kepala
sekolah
c. Menyusun
instrumen berupa kuis, ulangan harian, pedoman observasi kinerja ranah
psikomotor dan afektif
d. Angket
respon peserta didik
2.
Tahap
Tindakan
Siklus I
1. Rencana
Tindakan
a. Menyiapkan
rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I
b. Menempatkan
peserta didik sesuai denah yang disusun guru
c. Menyiapkan
soal kuis
d. Menyiapkan
soal ulangan harian
e. Menyiapkan
lembar penilaian proses belajar Menyiapkan lembar penilaian afektif
f. Menyiapkan
format penilaian kompetensi peserta didik
g. Menyiapkanlembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran
h. Menyiapkan
angket
2. Pelaksanaan
Tindakan
Sesuai
dengan langkah – langkah pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
3.
Observasi
4.
Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan
siklus II dilaksanakan setelah mempelajari hasil refleksi pada siklus I. Tahap
– tahap siklus II sama dengan siklus I
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Penelitian
1.
Siklus
1
Siklus pertama ini menitik beratkan pada
kegiatan membuat catatan dengan metode mind mapping. Peneliti menjelaskan
teknis penulisan mind mapping dan manfaat menulis catatan dengan menggunakan
metode ini.
a.
Tahap
Perencanaan
Peneliti bersama rekan sejawat menyusun
RPP. Selanjutnya, peneliti memilih teks yang akan dicatat dengan mengggunakan
metode mind mapping. Peneliti juga menyusun alat penilaian untuk mengetahui
sejauh mana mind mapping dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat
kosakata yang baru mereka pelajari. Selain itu, peneliti juga menyusun
instrumen penelitian berupa lembar observasi.
b.
Tahap
Pelaksanaan
Peneliti memulai kegiatan pembelajaran
dengan bertanya jawab seputar topik (brainstorming), mereview materi tata
bahasa berupa penggunaan kalimat Simple Past Tense dalam teks Recount. Kemudian
peneliti menjelaskan teknis penulisan mind mapping dan meminta siswa untuk
mencatat ulang teks surat pribadi dari buku BSE Bahasa Inggris kelas VIII
karangan Artono Wardiman dan kawan – kawan halaman 122 dalam bentuk mind
mapping. Penulisan mind mapping ditekankan pada kata kerja kedua yang digunaan
dalam teks recount. Untuk setiap penulisan kata kerja kedua, selalu diikuti
dengan penulisan kata kerja pertamanya dan sebuah gambar yang mewakili arti dari
kata itu. Dalam proses ini, siswa menggunakan bantuan kamus untuk mencari arti
kosakata.
c.
Tahap
Pengamatan
Peneliti bersama teman sejawat mengamati
masing – masing siswa dengan menggunakan lembar observasi. Hasil pengamatan itu
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Hasil Obervasi Kelas Siklus 1
No
|
Point yang diamati
|
Kriteria
|
|||
Sangat baik
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
||
1
|
Antusiasme siswa
|
√ X
|
|||
2
|
Interaksi
|
√ X
|
|||
3
|
Gagasan
|
X
|
√
|
||
4
|
Inisiatif
|
√ X
|
|||
5
|
Pemahaman siswa
|
√
|
X
|
||
Keterangan: √ (peneliti); X (kolaborator)
Dari
tabel di atas dapat diketahui bahwa antusiasme siswa dalam pembuatan catatan
mind mapping ini baik. Menurut peneliti, antusiasme ini terbangun karena model
penulisan mind mapping yang menggunakan gambar dan memicu kreatifitas masing –
masing siswa. Interaksi siswa dengan peneliti dan kolaborator juga baik. Jika
siswa mengalami kesulitan dalam mendapatkan arti sebuah kata dan perubahannya,
mereka akan bertanya kepada teman yang lain atau bertanya kepada peneliti
ataupun kolaborator. Untuk gagasan, peneliti merasa bahwa siswa belum
sepenuhnya mengeksplorasi. Banyak dari mereka yang membuat gambar yang seragam
dengan gambar temannya. Sedangkan untuk inisiatif, peneliti dan kolaborator
sepakat bahwa siswa masih kurang. Untuk masalah pemahaman teks recount ataupun
penulisan mind mapping siswa sudah cukup baik menurut peneliti namun menurut
kolaborator, pemahaman teks recount siswa masih kurang. Hal ini disimpulkan
setelah kolaborator melihat banyak siswa yang menuliskan kata – kata lain yang
bukan kata kerja kedua. Banyak siswa yang menuliskan kata – kata seperti especially,
fever, emergency dan drip.
d.
Tahap
Refleksi
Pada akhir siklus diadakan tes dalam
bentuk membuat kalimat sederhana tulis dengan mengggunakan kata kerja yang baru
saja mereka tulis dengan metode mind mapping.
Tabel 4.2
Hasil Uji Kompetensi Writing Siklus
1
Kriteria
|
Jumlah Siswa
|
Prosentase (%)
|
Sangat baik
|
10
|
29%
|
Baik
|
7
|
20%
|
Cukup
|
7
|
20%
|
Kurang
|
11
|
31%
|
Jumlah
|
35
|
100%
|
Kesimpulan
dari hasil di atas adalah sebagai berikut:
1)
Tata
Bahasa
Banyak siswa yang sudah mampu menulis
kalimat dalam pola past tense. Namun masih banyak juga siswa yang keliru.
Kesalahan ini biasanya terdapat pada pilihan kata kerja yang digunakan. Ada siswa
yang sudah menuliskan kalimat dengan benar seperti I heard a call. Tapi ada
juga yang masih menulis I hear him.
2)
Kosa
kata
Masih ada siswa yang menggunakan kosa
kata di luar kosa kata yang ditentukan. Pilihan kosa kata ini dikarenakan siswa
belum mampu menghafal kosakata yang mereka tulis dalam format mind mapping.
Dari temuan ini diketahui bahwa mind mapping dalam siklus pertama ini belum
berperan dalam membantu siswa dalam memahami kosakata yang digunakan dalam teks
recount. Setelah berdiskusi dengan kolaborator, diketahui bahwa masih ada
kekurangan dalam penulisan mind mapping. Siswa memang sudah membuat mind
mapping sesuai dengan petunjuk. Namun, semua siswa masih menggunakan pensil
atau ballpoint untuk menuliskan mind mapping.
Belum ada yang menggunakan pensil warna
atau spidol warna. Siswa juga kurang berkreasi dengan gambar untuk mewakili
arti dari kata yang ditulis. Michael Tipper, seorang praktisi mind mapping
menulis bahwa penggunaan warna dalam mind mapping memberikan beberapa manfaat (http://www.michaelonmindmapping.com/blog/mind-maps/7-reasons-to-add-colour-to-your-mind-maps/).
Diantaranya:
1. Membuat
informasi lebih melekat pada otak dan lebih mudah untuk “dipanggil ulang”.
2. Membedakan
antar cabang yang berbeda.
3. Warna
digunakan untuk mewakili suatu konsep. Misalnya merah untuk negatif, hijau
untuk positif atau kuning untuk ragu – ragu.
4. Membuat
mind mapping lebih menarik
Karena itu pada siklus berikutnya, siswa
diminta untuk membuat mind mapping dengan menggunakan pensil warna atau spidol
warna. Dan memotivasi siswa untuk membuat lebih banyak warna.
2.
Siklus 2
a.
Tahap
Perencanaan
Setelah melakukan refleksi siklus 1 dan
menemukan kesalahan dalam pembuatan mind mapping, penulis meminta siswa untuk
menyediakan pensil warna atau spidol warna untuk membuat mind mapping.
b.
Tahap
Pelaksanaan
Peneliti memulai kegiatan pembelajaran
dengan melakukan tanya jawab seputar topik (brainstorming), dan mereview materi
tata bahasa simple past tense. Kemudian siswa diminta untuk kembali membuat
mind mapping dari teks terdahulu. Namun, kali ini mind mapping ditulis dengan
menggunakan pensil warna atau spidol warna.
c.
Tahap
Pengamatan
Peneliti bersama teman sejawat mengamati
masing – masing siswa dengan menggunakan lembar observasi. Hasil pengamatan itu
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Hasil Obervasi Kelas Siklus 2
No
|
Point yang diamati
|
Kriteria
|
|||
Sangat baik
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
||
1
|
Antusiasme siswa
|
√ X
|
|||
2
|
Interaksi
|
√ X
|
|||
3
|
Gagasan
|
√
|
X
|
||
4
|
Inisiatif
|
√ X
|
|||
5
|
Pemahan siswa
|
√ X
|
|||
Keterangan: √ (peneliti); X (kolaborator)
Dari tabel di atas diketahui bahwa siswa
sangat antusias dalam pembelajaran. Antusiasme ini muncul karena siswa sudah
menggunakan pensil atau spidol warna yang membuat mind mapping yang dihasilkan
lebih menarik. Gambar – gambar yang dihasilkan juga lebih baik dan menarik.
Siswa sudah sangat berani bereksplorasi dengan kreatifitas mereka. Pemahaman
siswa juga jauh lebih baik dari sebelumnya. Siswa sudah mulai bisa membedakan
antara kata kerja pertama dengan kata kerja kedua.
d.
Tahap
Refleksi
Sama halnya dengan siklus pertama, pada
tahap akhir siklus 2 diadakan tes dalam bentuk membuat kalimat sederhana tulis
dengan mengggunakan kata kerja yang baru saja mereka tulis dengan metode mind
mapping..
Tabel 4.4
Hasil Uji Kompetensi Writing Siklus
2
Kriteria
|
Jumlah
Siswa
|
Prosentase
|
Sangat baik
|
15
|
43%
|
Baik
|
13
|
37%
|
Cukup
|
7
|
20%
|
Kurang
|
-
|
0%
|
Jumlah
|
35
|
100%
|
Kesimpulan
dari hasil di atas adalah sebagai berikut:
1) Tata
Bahasa
Banyak siswa yang sudah mampu menulis
kalimat dalam pola past tense. Kesalahan yang paling besar menurut peneliti
adalah kesalahan dalam penulisan kata kerja bentuk kedua. Namun, sudah tidak
ada siswa yang menuliskan kata kerja bentuk pertama pada kalimat.
2) Kosa
kata
Kosakata yang muncul dalam kalimat
merupakan kosakata yang mereka tulis berdasarkan teks recount dari buku BSE
Bahasa Inggris oleh Artono Wardiman.
Sebagai
perbandingan, berikut disajikan tabel hasil uji kompetensi siklus 1 dan siklus
2:
Tabel 4.5
Perbandingan Hasil Tes Siklus 1 dan
2
Kriteria
|
Jumlah
|
Prosentase
|
||
Siklus 1
|
Siklus 2
|
Siklus 1
|
Siklus 2
|
|
Sangat baik
|
10
|
15
|
29%
|
43%
|
Baik
|
7
|
13
|
20%
|
27%
|
Cukup
|
7
|
7
|
20%
|
20%
|
Kurang
|
11
|
-
|
31%
|
0%
|
Jumlah
|
35
|
35
|
100%
|
100%
|
Berdasarkan
tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai dengan
kriteria sangat baik mengalami peningkatan 5 siswa atau 14%. Kriteria baik juga
mengalami peningkatan sejumlah 6 siswa atau 16%, sementara kriteria cukup ada 7
siswa atau hanya 20%. Pada siklus ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai
kriteria kurang. Dari analisa tes siklus ini, peneliti menyimpulkan bahwa mind
mapping dapat membantu siswa dalam memahami kosakata teks recount.
B.
Pembahasan
Mind
mapping terbukti membantu siswa dalam memahami dan menghafal serta mengingat
kembali kosakata bahasa inggris yang berkaitan dengan teks recount. Mind mapping yang ditulis dengan gambar dan
alat tulis warna terbukti mampu menarik minat siswa dalam belajar. Berdasarkan
pengamatan, antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sangat baik.
Satu hal yang menjadi kesimpulan penulis adalah bahwa sebagus apapun sebuah
metode atau alat bantu pembelajaran, siswa perlu beradaptasi dalam
menggunakannya. Dalam siklus satu, mind mapping seperti belum membantu siswa
secara signifikan. Hal ini bisa jadi dikarenakan siswa belum terbiasa
menggunakan mind mapping.
Selain
itu, penggunaan mind mapping juga perlu memperhatikan aturan yang telah
disarankan. Dalam kasus ini, peneliti tidak memperhatikan absennya alat tulis
warna dalam penulisan mind mapping. Penulisan mind mapping dengan menggunakan
alat tulis warna terbukti mampu membantu siswa dalam mengingat kosakata yang
mereka tulis.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pelaksanaan siklus 1 dan siklus 2 dapat disimpulkan bahwa mind mapping terbukti
mampu membantu siswa dalam memahami vocabulary teks recount Hal ini bisa
dilihat dari perbandingan tabel tes kedua siklus tersebut pada bab IV. Dari
siklus pertama sampai kedua diketahui bahwa kriteria sangat baik mengalami
peningkatan 5 siswa atau 14%. Kriteria baik juga mengalami peningkatan sejumlah
6 siswa atau 16%, sementara kriteria cukup ada 7 siswa atau hanya 20%. Pada
siklus kedua tidak ada siswa yang memperoleh nilai kriteria kurang. Dari
analisa tes siklus ini, peneliti menyimpulkan bahwa mind mapping dapat membantu
siswa dalam memahami kosakata teks recount.
Siklus
pertama tidak berlaku sesuai dengan yang diharapkan karena mind mapping tidak
dibuat sesuai dengan aturan yang ada. Mind mapping seharusnya ditulis dengan
menggunaan alat tulis warna atau spidol warna dan gambar – gambar yang memadai.
Namun, siswa hanya membuat mind mapping dengan menggunakan pensil atau
ballpoint. Mind mapping terbukti mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam
proses pembelajaran karena dalam penulisannya kreatifitas siswa sangat
diperlukan. Dan lagi, cara pencatatan semacam ini sangat berbeda dan baru bagi
siswa sehingga membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
B.
Saran
Mind
mapping mampu membuat siswa mengingat kosakata yang mereka pelajari dengan
baik. Namun demikian penulis perlu menyarankan agar penggunaan mind mapping
pada pembelajaran – pembelajaran lainnya mengikuti kaidah pembuatan mind
mapping seperti penggunaan alat tulis warna, dan gambar. Siswa juga perlu
dibiasakan mencatat menggunakan mind mapping ini. Sebuah metode terbaik
sekalipun memerlukan pembiasaan agar dapat berhasil guna.
DAFTAR PUSTAKA
Buzan, Tony, Buzan,
Barry. 1993. The Mind Map Book.
United States: Penguin Group.
Dryden,
Gordon & Vos Jeannette.1999. Revolusi
Cara Belajar: Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun” Bagian I dan
II (2nd Ed) Bandung: Kaifa
Hornby,
AS. 2000. Oxford Advance Learners’
dictionary of Current English. New York: Oxford University Press.
Schonell,
F. Meddleton, I., Shaw, B., Routh, M., Popham, D., Gill, G., Mackrell, G., and Stephens,
C. (1956). A study of the oral vocabulary
of adults. Brisbane and London:University of Queensland Press / University of
London Press.
Thornbury, Scott. 2002.
How To Teach Vocabulary. Malaysia:
Pearson Education Limited.
Tipper,
Michael. 7 Reasons to add colour to your
mind maps, (online) (http://www.michaelonmindmapping.com/blog/mind-maps/7-reasons-to-add-colour-to-your-mind-maps/,
diakses pada 9 September 2012).
2. Agus Bambang Irawan (SMP Negeri 4 Cijaku)
PENINGKATAN
KEMAMPUAN MENYIMAK SISWA DALAM BERKENALAN DENGAN ORANG LAIN DENGAN MEDIA AUDIO
LINGUAL (AUDIO LINGUAL MEDIA) DI KELAS VII (TUJUH) A SMPN SATAP 4 CIJAKU TAHUN
2012/2013
BAB
I. PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa merupakan faktor
yang sangat penting dalam kehidupan ini.
Tanpa bahasa manusia tidak akan bisa
berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa terdiri dari bahasa lisan dan tulisan.
Dari setiap jenis bahasa ini mempunyai kegunaan yang berbeda. Bahasa juga
sangat beragam, ada bahasa ibu (daerah), bahasa nasional dan bahasa asing.
Dalam bahasa
tersebut, ada empat skill/keterampilan yang harus dikuasai oleh para siswa. Keempat
skill tersebut adalah LISTENING, SPEAKING, READING, dan WRITING. Keempat skill
itu saling berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Listening dengan Speaking
dan Reading dengan Writing. Dalam hal berkomunikasi, listening/menyimak sangat
penting, karena menyimak ini berhubungan langsung dengan indera pendengaran.
Menyikapi hal ini, khususnya dalam bahasa inggris, penulis ingin menuangkan ide
dan pemikirannya dalam memecahkan masalah tersebut. Maka dengan ini, penulis
berinisiatif melakukan pembelajaran listening dengan metode Audio Lingual dan
pembelajaran tersebut dilaksanakan di kelas VII (Tujuh) dengan tujuan
meningkatkan kemampuan menyimak siswa. Adapun kegiatan tersebut dinamakan
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK SISWA DALAM BERKENALAN DENGAN ORANG LAIN
(INTRODUCING WITH OTHER) DENGAN MEDIA AUDIO LINGUAL (AUDIO LINGUAL MEDIA) DI
KELAS VII (TUJUH) SMPN SATAP 4 CIJAKU TAHUN PELAJARAN 2012/2013.
- IDENTIFIKASI MASALAH
1.
Bagaimana
minat belajar bahasa inggris siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013?
2.
Bagaimana
minat belajar listening/menyimak siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku
tahun 2012/2013?
3.
Apakah
metode Audio Lingual mampu dikuasai oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4
Cijaku tahun 2012/2013?
4.
Mengapa
listening/menyimak harus dipelajari oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4
Cijaku tahun 2012/2013?
- PEMBATASAN DAN RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
identifikasi masalah, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
minat belajar bahasa inggris siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013?
2.
Bagaimana
minat belajar listening siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013?
3.
Apakah
metode Audio Lingual mampu dikuasai oleh siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4
Cijaku tahun 2012/2013?
- TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan
umum
Sebagai masukan bagi sekolah,
guru, dan siswa dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di
kelas.
2. Tujuan
khusus
a. Untuk
mengetahui minat belajar siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013 terhadap bahasa inggris.
b. Untuk
mengetahui minat belajar siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013 terhadap listening.
c. Untuk
mengetahui kemampuan menyimak siswa kelas VII (Tujuh) SMPN Satap 4 Cijaku tahun
2012/2013 dengan metode Audio Lingual.
- MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
bagi :
1.
SMP Negeri Satap 4 Cijaku
Hasil
penelitian ini bisa menjadi tolak ukur untuk sekolah dalam rangka meningkatkan
kemampuan belajar siswa di semua bidang studi yang mereka pelajari di sekolah.
2.
Guru
Sebagai
bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya.
3.
Siswa
Sebagai
bahan masukan bagi siswa dalam menguasai keterampilan berbicara.
BAB
II. KAJIAN PUSTAKA
- KAJIAN TEORI
1.
Menyimak
a.
Pengertian
Menyimak
Tarigan
(1994:28) menyatakan bahwa menyimak adalah suatau proses kegiatan mendengarkan
lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi
atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sedangkan hakikat menyimak menurut Anderson dalam Tarigan (1994:28)
menyatakan bahwa menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal,
serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Menyimak dapat pula bermakna
mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi (Russell
& Russell; Anderson dalam Tarigan (1994:28).
Pengertian
menyimak menurut Akhadiah dalam Sutari, dkk.(1998:19) ialah suatu proses yang
mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi,
menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di
dalamnya.
Menyimak mempunyai arti
yang sama dengan mendengarkan.
Mendengarkan menurut Subyantoro dan Hartono (2003:1-2) adalah memberikan
pengertian bahwa mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan
dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar. Dalam hal ini
rangsangan bunyi yang dimaksud untuk didengar adalah bunyi-bunyi bahasa yang
diucapkan oleh orang dalam suatu peristiwa komunitas. Keterampilan menyimak
dapat diartikan pula sebagai koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik
keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis (Rahmina. 2006.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Pembelajar. Http//www.lalf.edu/kipbipa?papers/Iim Rahmina.doc.).
Mendengarkan menurut Subyantoro dan Hartono (2003:1-2) adalah memberikan
pengertian bahwa mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan
dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar. Dalam hal ini
rangsangan bunyi yang dimaksud untuk didengar adalah bunyi-bunyi bahasa yang
diucapkan oleh orang dalam suatu peristiwa komunitas. Keterampilan menyimak
dapat diartikan pula sebagai koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik
keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis (Rahmina. 2006.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Pembelajar. Http//www.lalf.edu/kipbipa?papers/Iim Rahmina.doc.).
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah mendengarkan lambang-lambang bunyi yang dilakukan
dengan sengaja dengan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi,
interprestasi, reaksi dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi, menangkap
isi dan merespon makna yang terkandung di dalamnya.
b.
Tujuan
Menyimak
Tujuan menyimak menurut Lagon dalam
Tarigan, (1994: 56).
1)
Menyimak untuk
belajar, yaitu untuk memperoleh pengetahuan dari ujaran pembicara.
2)
Menyimak untuk
menikmati keindahan audial, yaitu menyimak dengan menekankan pada penikmatan
terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan.
3)
Menyimak untuk
mengevaluasi. Menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai apa-apa yang dia
simak (baik-buruk, indah-jelek, dan lain-lain).
4)
Menyimak untuk mengapresiasi materi simakan. Orang menyimak agar dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya.
5)
Menyimak untuk
mengkomunikasikan ide-idenya sendiri. Orang menyimak dengan maksud agar dapat
mengkomunikasikan ide, gagasan, maupun perasaannya kepada orang lain dengan
lancar dan tepat.
6)
Menyimak dengan maksud dan tujuan dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat.
7)
Menyimak untuk
memecahkan masalah secara kreatif dan analisis.
8)
Menyimak untuk
meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang diragukan
(disarikan dari:Logan [et al]; Shrope dalam Tarigan 1994:56).
c.
Manfaat
Menyimak
Menurut
Setiawan (dalam Suratno 2006:16-18) manfaat menyimak sebagai berikut :
1) Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup
yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informatif yaitu
memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.
2) Meningkatkan intelektualitas serta
memperdalam penghayatan keilmuan dan khasanah ilmu kita.
3) Memperkaya kosa
kata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang
banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata-kata yang digunakan
lebih variatif.
4) Memperluas
wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan objektif.
5) Meningkatkan kepekaan dan kepedulian
sosial.
6) Meningkatkan
citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus dan bahasanya.
Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sikap apresiatif, sikap menghargai
karya atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera
estetis kita.
7) Menggugah kreativitas dan semangat
mencipta kita untuk menghasilkan ujaran-ujaran
dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan
mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga.
Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.
d.
Ragam
Menyimak
Ragam menyimak menurut
Tarigan (1994:35-49 ) adalah sebagai berikut:
1) Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive
listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang
lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu dibawah bimbingan
langsung dari seorang guru. Jenis-jenis
menyimak ekstensif yaitu: menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik,
dan menyimak pasif.
2) Menyimak Intensif
Kalau menyimak
ekstensif lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu dibawah bimbingan
langsung para guru, maka menyimak
intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi,
dikontrol terhadap satu hal tertentu.
e.
Faktor
yang Mempengaruhi Menyimak
Menurut
Tarigan (1994:99-107) faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak adalah sebagai
berikut :
1)
Kondisi fisik seseorang penyimak merupakan faktor
penting yang turut menentukan keefektifan serta kualitas serta kualitas dalam
menyimak
2)
Faktor psikologis juga mempengaruhi proses menyimak.
Faktor psikologis yang positif memberi pengaruh yang baik, sedangkan faktor
psikologis yang negatif memberi pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak.
Faktor positif yang menguntungkan bagi kegiatan menyimak misalnya pengalaman
masa lalu yang menyenangkan, yang telah menentukan minat dan pilihan,
kepandaian yang beraneka ragam. Faktor negatif antara lain prasangka dan kurang
simpati, keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi, pandangan yang
kurang luas, kebosanan dan kejenuhan, sikap yang tidak layak terhadap
pembicara.
3)
Faktor Pengalaman Sikap merupakan
hasil pertumbuhan dan
perkembangan pengalaman.
Kurangnya minat merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak ada
sama sekali pengalaman dalam bidang yang disimak.
4)
Faktor Sikap Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua
sikap utama mengenai segala hal, yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang
akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya,
tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan
baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada menyimak, masing-masing dampak positif
dan dampak negatif.
5)
Faktor Motivasi Motivasi merupakan salah satu butir
penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu
maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan. Begitu pula
halnya dengan menyimak.
6)
Faktor Jenis Kelamin Dari beberapa penelitian,
beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai
perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun
berbeda pula. Julian Silverman, misalnya, menemui fakta-fakta bahwa gaya
menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional,
keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrusif (bersifat
mengganggu), berdikari atau mandiri, sanggup mencukupi kebutuhan sendiri
(swasembada), dapat menguasai atau mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak
wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah atau simpatik, difusif
(menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi atau gampang terpengaruh, mudah
mengalah, reseptif, bergantung (tidak berdikari), dan emosional (Silverman, dalam
Tarigan (1994:108-109)
7)
Faktor Lingkungan Berpengaruh besar terhadap
keberhasilan menyimak khususnya, terhadap keberhasilan belajar para siswa pada
umumnya. Faktor lingkungan berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik menyangkut pengaturan dan penataan ruang kelas serta sarana
dalam pembelajaran menyimak. Lingkungan sosial mencakup suasana yang mendorong
anak-anak untuk mengalami, mengekspresikan, serta mengevaluasi ide-ide.
8)
Faktor Peranan dalam Masyarakat Kemampuan menyimak
dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Peranan
dalam masyarakat menjadi
faktor penting bagi peningkatan kegiatan menyimak.
f.
Tahap-tahap
Menyimak
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Sudah
barang tentu dalam proses ini terdapat tahap-tahap. Tahap-Tahap menyimak
menurut Tarigan (1994:58-59)
1) Tahap Mendengar
Dalam tahap ini kita baru mendengar segala sesuatu yang
dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Jadi kita
masih berada pada tahap hearing.
2) Tahap Memahami
Setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti
atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh sang pembicara,
maka sampailah kita pada tahap understanding.
3) Tahap Menginterpretasi
Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya
mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau
menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam
ujaran itu, dengan demikian maka sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4) Tahap Mengevaluasi
Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi
pembicaraan, sang penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat
serta gagasan sang pembicara, dimana keunggulan dan kelemahan, dimana kebaikan
dan kekurangan sang pembicara; maka dengan demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
5) Tahap Menanggapi
Merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak; sang penyimak
menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan
oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya; sang penyimak pun
sampailah pada tahap menanggapi (responding).
2. Audio
Lingual Media
Media audio merupakan media pembelajaran yang pemakaiannya
dilakukan dengan cara diproyeksikan melalui arus listrik dalam bentuk suara.
Misalnya, radio, tape recorder. Dan
media yang diproyeksikan ke layar monitor dalam bentuk gambar dan suara
misalnya, Televisi, Video, Film, DVD dan VCD. Melalui media ini seseorang tidak
hanya dapat melihat atau mengamati sesuatu melainkan sekaligus bisa mendengar
segala sesuatu yang divisualisasikan (Hastuti, 2006:208). Djamarah dan Zain
(2006 : 124-125) menjelaskan bahwa media audio adalah media yang mempunyai
unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih
baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu media yang pertama adalah media audio
diam yaitu media yang menampilkan suara dan gambar seperti film bingkai suara (sound
slides), film rangka suara, dan cetak suara. Sedangkan media yang kedua adalah audio
gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak
seperti film suara dan video-cassette.
Media audio yang
digunakan dalam penelitian ini berupa speaker portable. Media speaker portable
merupakan media suara (audio) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan
materi pembelajaran. Media ini mampu menggugah perasaan dua pikiran siswa,
memudahkan pemakaian materi dan menarik minat siswa untuk belajar.
Penggunaan media audio dalam proses pembelajaran menyimak berita
diharapkan dapat mempertinggi proses dan hasil pembelajaran sehingga kompetensi
ini benar-benar dikuasai siswa. Selain itu menjadikan proses pembelajaran lebih
bervariasi dan menarik, karena dengan penggunaan media audio siswa tidak hanya
dapat mendengar tetapi juga bisa melihat segala sesuatu yang disimaknya.
3.
Berkenalan dengan orang lain
Mempunyai banyak teman merupakan harapan semua orang. Dalam
pertemanan pun selalu ada canda, tawa bahkan tangisan. Setiap orang juga selalu
ingin menambah teman dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika itu terjadi, maka
berkenalan dengan orang lain sangat diperlukan dan sangat penting. Bagaimana
bisa memperbanyak teman kalau kita tidak berkenalan dengan orang lain.
Dalam berkenalan pun kita harus memperhatikan beberapa hal, yakni
sikap, bahasa yang digunakan, tata karma, dan logat.
4.
Kerangka Berfikir
Keterampilan menyimak di sekolah perlu ditingkatkan karena dengan
keterampilan menyimak dengan baik, siswa akan memiliki dan mengaplikasikan
keterampilan-keterampilan yang baik pula. Selain itu siswa diharapkan dapat
mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
Keterampilan menyimak siswa kelas VII SMPN Satap 4 Cijaku belum
optimal. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dari siswa
sendiri yaitu: (1) Sikap siswa yang meremehkan keterampilan menyimak. Agar
siswa tidak meremehkan keterampilan menyimak guru harus dapat memberikan
penjelasan tentang manfaat menyimak; (2) Siswa sulit menghubungkan berbagai
ide-ide yang didengar. Hal ini dapat diatasi dengan cara latihan yang bertahap;
(3) Kondisi fisik siswa yang lelah pada jam pelajaran akhir. Dalam memecahkan
masalah pada jam terakhir kondisi fisik siswa yang lelah, dengan cara siswa
diajak untuk mendengarkan bahan simakan yang menarik; (4) Kebiasaan siswa
menyimak sambil mencatat. Hal ini merupakan kebiasaan yang kurang baik karena
dapat mengacaukan konsentrasi. Guru menyuruh mencatat hal-hal yang penting saja
misalnya kosakata sukar.
Sedangkan faktor dari guru yaitu penggunaan media pembelajaran yang
masih terbatas dan belum digunakan secara maksimal. Dalam proses pembelajaran,
siswa hanya menyimak dari pembacaan teks yang dilakukan oleh guru. Hal ini
menyebabkan siswa mengalami kebosanan dan kurang termotivasi untuk belajar
menyimak, dan akhirnya berpengaruh pada penguasaan keterampilan menyimak yang
rendah serta hasil belajar yang kurang memuaskan.
Dengan adanya permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitian
tindakan kelas dengan memanfaatkan media audio dalam pembelajaran berkenalan
dengan orang lain.
BAB
III. METODE PENELITIAN
- OBJEK TINDAKAN
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian tindakan
kelas (PTK). PTK merupakan suatu bentuk
penelitian reflektif diri yang secara kolektif dilakukan peneliti dalam
situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan
sosial mereka, serta pemahaman mereka mengenai praktek ini dan terhadap situasi
tempat dilakukan praktek-praktek ini (Kemmis dan Taggart dalam Riyanto 2001:49)
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Kemmis dan Taggart (dalam Riyanto 2001:58) menggambarkan daur PTK sebagai berikut.
- SETTING/LOKASI/SUBJEK
PENELITIAN
1. Lokasi
Penelitian
Penelitian ini
bertempat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Satu Atap 4 Cijaku, Kp.
Pamundayan Ds. Mekarjaya Kec. Cijaku Kab. Lebak - Banten 42395.
2. Objek
Penelitian
Adapun objek penelitian
ini dilakukan di kelas VII A SMPN Satap 4 Cijaku.
3. Waktu
Penelitian
Penelitian ini
dilakukan selama dua hari, yakni tanggal 11 dan 13 September 2012.
- METODE PENGUMPULAN DATA
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes
dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II. Pada
hasil tes siklus I dianalisis, dari hasil analisis akan diketahui kelemahan
siswa dalam kegiatan menyimak berita, yang selanjutnya sebagai dasar untuk
menghadapi tes pada siklus II, yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes
siswa pada siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan berkenalan dengan
orang lain menggunakan media audio.
- METODE
ANALISIS DATA
Analisis
data tes secara kuantitatif dihitung dengan cara persentase, dengan cara: (1) merekap nilai yang diperoleh oleh siswa,
(2) menghitung nilai kumulatif, (3) menghitung nilai rata-rata, dan (4)
menghitung persentase.
Rumus
nilai persentase adalah NP = NK x 100%
R
Keterangan:
NP = Nilai persentase
NK = Nilai Kumulatif
R = Jumlah Responden
Untuk mengetahui terdapat peningkatan hasil
pembelajaran menyimak atau tidak maka hasil nilai siklus I dibandingkan dengan
nilai siklus II. Melalui perhitungan ini akan diketahui peningkatan kemampuan
menyimak menggunakan media audio.
BAB
IV. HASIL PENELITIAN
- GAMBARAN
SELINTAS TENTANG SETTING
SMPN Satap 4 Cijaku
merupakan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang dibangun pada 2007 yang lalu.
Sekolah tersebut terletak di Kp. Pamundayan Ds. Mekarjaya Kec. Cijaku Kab.
Lebak – Banten 42395. Sekarang Sekolah tersebut sudah mempunyai empat rombongan
belajar, kelas VII berjumlah dua kelas dan kelas VIII dan IX masing-masing satu
kelas.
- PENJELASAN
PER SIKLUS
1.
Prosedur Tindakan pada siklus I
Prosedur
tindakan pada siklus I terdiri atas perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi.
a.
Perencanaan
Dalam tahap perencanaan ini peneliti mempersiapkan proses
pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan dengan orang lain menggunakan
media audio dengan langkah-langkah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai
dengan tindakan yang akan dilakukan, (2) menyiapkan bahan materi simakan, (3)
menyusun rancangan evaluasi yang meliputi tes, (4) melakukan kolaborasi.
b.
Tindakan
Tindakan yang akan dilakukan harus sesuai dengan perencanaan. Pada
tahap ini guru melakukan tindakan dalam proses pembelajaran. Tindakan yang
dilakukan dalam tahap ini terdiri atas pendahuluan, inti, dan penutup.
1)
Pendahuluan
Tahap
pendahuluan merupakan tahap untuk mempersiapkan mental siswa dan mengkondisikan
siswa agar mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Persiapan dilakukan
dengan cara memancing pengetahuan siswa tentang keterampilan menyimak
menggunakan media audio.
2)
Inti
Tahap inti
merupakan tahap melaksanakan kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain.
Pada tahap ini, peneliti menjelaskan materi menyimak, menerangkan hakikat berkenalan
dengan orang lain. Siswa diminta untuk menyimak. Setelah kegiatan menyimak,
siswa diminta menjawab pertanyaan dari guru melalui tes dengan menggunakan
rekaman dari flasdisk melalui media sound.
Inilah hasil
tes pada siklus I
|
NO
|
NAMA SISWA
|
SIKLUS I
|
|
1
|
AGUS GUSTINA
|
78
|
|
2
|
ALI FATHUROHMAN
|
80
|
|
3
|
ANDREANSYAH AMANDA
|
79
|
|
4
|
APIP ANDREANSYAH
|
75
|
|
5
|
ARUM MAHFUDOH
|
80
|
|
6
|
DEDE SUPRIATNA
|
83
|
|
7
|
DEWI YULYANTI
|
80
|
|
8
|
ERI LESTARI
|
79
|
|
9
|
FAZRIANAH
|
80
|
|
10
|
FERI FIRDAUS
|
76
|
|
11
|
HARIS MAULANA YUSUF
|
84
|
|
12
|
HENGKI SUHERLAN
|
77
|
|
13
|
MUHAMAD SAEPUDIN
|
73
|
|
14
|
NADIA INDRIYANTI
|
76
|
|
15
|
NADILAH KHOIRU SOLIHAH
|
76
|
|
16
|
RAMDANI
|
76
|
|
17
|
RIAN HIDAYAT
|
81
|
|
18
|
RIKO APRIANTO
|
77
|
|
19
|
RINALDI IMAM TAUFIK
|
83
|
|
20
|
SANTI NURAENI
|
80
|
|
21
|
SARHAMAH
|
77
|
|
22
|
SITI SOFIYAH
|
79
|
|
23
|
SOPYAN
|
78
|
|
24
|
SUHAEDAH
|
78
|
|
25
|
SUHERDI
|
83
|
|
26
|
SUTARNA
|
76
|
|
27
|
UGI SUGIARTA
|
70
|
|
28
|
WULANDARI
|
76
|
|
29
|
YENI
|
72
|
|
30
|
YUNENGSIH
|
75
|
|
|
JUMLAH
|
2337
|
|
|
RATA-RATA
|
77.9
|
3)
Penutup
Pada tahap
ini peneliti bersama siswa mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang
berlangsung dan membuat simpulan terhadap pembelajaran keterampilan menyimak.
c.
Observasi
Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
Peneliti mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Adapun
aspek yang diamati adalah perilaku siswa baik yang positif maupun negatif.
d.
Refleksi
Setelah pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan analisis terhadap
hasil tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara yang telah
dilakukan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui: (a) kelebihan dan
kekurangan teknik dan media audio yang digunakan yang digunakan oleh peneliti
dalam proses pembelajaran siklus I; (b) kelebihan dan kekurangan materi
menyimak berita; (c) tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa selama proses
pembelajaran; (d) tindakan-tindakan yang dilakukan peneliti selama proses
pembelajaran. Refleksi pada siklus I dilakukan untuk mengubah strategi
pembelajaran pada siklus II.
2.
Prosedur Tindakan pada Siklus II
a.
Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada siklus II, merupakan penyempurnaan
pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan siklus II
adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan
dengan orang lain, (2) menyiapkan bahan materi simakan yang berbeda, (3) menyusun
perbaikan instrumen yang berupa data tes, dan (4) dalam berkolaborasi peneliti
lebih sering berdiskusi dengan guru lain dan teman sejawat.
b.
Tindakan
1)
Pendahuluan
Ada beberapa
pembaharuan tindakan pada tahap ini. Sebelum siswa menyimak berita, guru menjelaskan
terlebih dahulu kesalahan-kesalahan yang
terjadi pada
siklus I. peneliti menanyakan kembali materi yang telah diberikan peneliti pada
pertemuan yang lalu. Peneliti meminta siswa agar lebih konsentrasi dalam
kegiatan menyimak.
2)
Inti
Guru
menjelaskan kembali materi menyimak berkenalan dengan orang lain, menerangkan
hakikat berkenalan dengan orang lain, dan menyiapkan kembali materi simakan
yang berbeda. Setelah kegiatan menyimak, siswa diminta untuk mengerjakan soal
yang diberikan oleh guru melalui tes dengan menggunakan rekaman kaset.
Hasil tes
pada siklus II
|
NO
|
NAMA SISWA
|
SIKLUS II
|
|
1
|
AGUS GUSTINA
|
80
|
|
2
|
ALI FATHUROHMAN
|
86
|
|
3
|
ANDREANSYAH AMANDA
|
80
|
|
4
|
APIP ANDREANSYAH
|
80
|
|
5
|
ARUM MAHFUDOH
|
80
|
|
6
|
DEDE SUPRIATNA
|
80
|
|
7
|
DEWI YULYANTI
|
78
|
|
8
|
ERI LESTARI
|
80
|
|
9
|
FAZRIANAH
|
78
|
|
10
|
FERI FIRDAUS
|
78
|
|
11
|
HARIS MAULANA YUSUF
|
80
|
|
12
|
HENGKI SUHERLAN
|
85
|
|
13
|
MUHAMAD SAEPUDIN
|
75
|
|
14
|
NADIA INDRIYANTI
|
70
|
|
15
|
NADILAH KHOIRU SOLIHAH
|
79
|
|
16
|
RAMDANI
|
78
|
|
17
|
RIAN HIDAYAT
|
80
|
|
18
|
RIKO APRIANTO
|
75
|
|
19
|
RINALDI IMAM TAUFIK
|
82
|
|
20
|
SANTI NURAENI
|
80
|
|
21
|
SARHAMAH
|
80
|
|
22
|
SITI SOFIYAH
|
76
|
|
23
|
SOPYAN
|
80
|
|
24
|
SUHAEDAH
|
86
|
|
25
|
SUHERDI
|
78
|
|
26
|
SUTARNA
|
77
|
|
27
|
UGI SUGIARTA
|
70
|
|
28
|
WULANDARI
|
80
|
|
29
|
YENI
|
75
|
|
30
|
YUNENGSIH
|
77
|
|
|
JUMLAH
|
2363
|
|
|
RATA-RATA
|
78.76667
|
3)
Penutup
Pada tahap
ini peneliti bersama siswa mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang
berlangsung dan membuat simpulan terhadap pembelajaran keterampilan menyimak berkenalan
dengan orang lain.
c.
Observasi
Pada tahap
ini, peneliti mempersiapkan lembar pedoman observasi. Aspek-aspek yang diobservasi
pada siklus II meliputi aspek positif dan negatif.
d.
Refleksi
Refleksi pada
siklus II ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunaan strategi
kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain menggunakan media audio untuk
mengetahui keberhasilan pelaksanaan perbaikan tindakan pada siklus I. Refleksi
dilakukan dengan menganalisis hasil tes keterampilan menyimak berkenalan dengan
orang lain yang dilakukan pada siklus II.
Refleksi pada
siklus II ini dilakukan untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa pada
siklus I. Tujuan refleksi ini adalah untuk menentukan kemajuan- kemajuan yang
telah dicapai selama proses pembelajaran dan untuk mencari kelemahan-kelemahan
yang muncul dalam pembelajaran. Kemajuan yang dicapai pada siklus II adalah
peningkatan nilai tes menyimak berkenalan dengan orang lain dan perubahan tingkah
laku siswa dari negatif menjadi positif.
- PROSES
MENGANALISIS DATA
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes
dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II. Pada hasil tes
siklus I dianalisis, dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam
kegiatan menyimak berkenalan dengan orang lain, yang selanjutnya sebagai dasar
untuk menghadapi tes pada siklus II, yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil
tes siswa pada siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menyimak berkenalan
dengan orang lain menggunakan media audio.
BAB
V. KESIMPULAN DAN SARAN
- KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pada siklus I dan II terjadi perubahan nilai. Walaupun kenaikan hanya
10%, itu tetap menunjukan perubahan yang besar karena nilai pada siklus I pun
sudah besar. Ini menandakan bahwa peningkatan keterampilan menyimak berkenalan
dengan orang lain cocok dengan menggunakan media audio lingual.
- SARAN UNTUK TINDAKAN LEBIH LANJUT
Berdasarkan
pada hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan untuk
menggunakan media audio lingual dalam pembejaran listening/menyimak. Penulis
juga mengharapkan saran lain dari para pembaca untuk perbaikan PTK ini ke
depan. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Pendidikan
Nasional. 2004. Keterampilan Menyimak. Jakarta: Depdiknas.
Djamarah, Syaiful
Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Asdi
Mahasatya.
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Nurgiantoro, Burhan. 1988. Penilaian dan Pengajaran
Bahasa dan Sastra. Jogjakarta: BPFE.
Rahmina,
Iim.2006. Upaya Meningkatkan Kemampuan
Menyimak Pembelajar. UNES Press
Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi
Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC
Subyantoro dan Bambang Hartono. 2003.
Pengembangan Kemampuan Berbahasa (Pembelajaran Keterampilan Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan
Menulis). Makalah
Disajikan pada Pelatihan Terintegtasi Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Tahun 2003.
|
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar